Timur Tengah di Tubir Perang Besar

4 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Kondisi keamanan di Timur Tengah kian panas menyusul serangan Amerika Serikat dan Saudi ke Irak pada Rabu (28/7/2026). Serangan tersebut diklaim menewaskan empat anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), hal yang bisa memicu reaksi balasan dari Teheran.

Kematian empat anggota IRGC akibat  serangan gabungan Arab Saudi dan AS ke Irak itu dilaporkan kantor berita semi-resmi Mehr. Aljazirah juga mengeklaim melihat foto yang beredar memperlihatkan beberapa peti jenazah yang diselimuti bendera, namun belum ada konfirmasi resmi dari IRGC.

Terkait kondisi terkini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan kepada rakyat Iran untuk "melawan musuh dan berdiri teguh menghadapi mereka agar kita tidak tunduk pada ketidakadilan dan penindasan".

"Demikian pula, kita tidak boleh menindas warga kita atau melakukan ketidakadilan terhadap mereka," demikian kutipan pernyataan beliau oleh kantor berita IRNA. Pezeshkian menambahkan bahwa Iran telah membuktikan diri sebagai "model perlawanan yang unik".

Sedangkan Dewan Keamanan Nasional Irak telah mengadakan pertemuan darurat dengan panglima tertinggi angkatan bersenjata untuk membahas serangan AS-Arab Saudi yang menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi.

"Pertemuan tersebut menegaskan sikap tegas pemerintah yang menolak segala tindakan permusuhan, terlepas dari siapa pelakunya ataupun alasan yang mendasarinya, serta menekankan bahwa penanganan dan perlawanan terhadap agresi semacam itu merupakan tanggung jawab mutlak pemerintah Irak," demikian pernyataan dewan tersebut.

Dewan itu menyerukan "penggunaan jalur diplomasi sebagai cara untuk menyelesaikan sengketa" dan menyatakan bahwa Irak harus "menjauhi konflik regional".

Sebelumnya, pihak kepresidenan Irak telah mengecam serangan tersebut serta "penggunaan wilayah Irak sebagai titik peluncuran atau medan pertempuran untuk serangan terhadap negara-negara tetangga".

Presiden AS Donald Trump berbicara kepada Fox News juga menyatakan akan ada tanggapan atas serangan terhadap aset militer AS di Yordania pada Rabu. "Kami akan menghantam mereka dengan keras; mereka akan dipukul habis-habisan," ujarnya.

Pada hari yang sama, sebuah pesawat nirawak menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik AS di pelabuhan Damietta, Mesir, yang terletak di Laut Tengah, menurut perusahaan keamanan maritim Ambrey. Dua kapal tanker gas terbakar di Damietta, kata perusahaan layanan pelabuhan Inchcape.

Di tengah eskalasi itu, Angkatan bersenjata dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) berpartisipasi dalam latihan militer gabungan di Bahrain, demikian pernyataan Angkatan Pertahanan negara tersebut.

Kepala Staf Letnan Jenderal Dhiab bin Saqr al-Nuaimi mengatakan bahwa latihan "Perisai Bahrain" (Bahrain Shield), yang berlangsung dari tanggal 28 hingga 30 Juli, bertujuan untuk meningkatkan kesiapan tempur, memperbaiki perencanaan operasional, dan memperkuat koordinasi di antara pasukan negara-negara Teluk.

Ia menyatakan bahwa partisipasi angkatan bersenjata GCC "mencerminkan karakteristik kekuatan militer gabungan Teluk yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tantangan". Latihan tersebut, tambahnya, merupakan "landasan strategis yang kokoh bagi solidaritas militer serta pilar yang kuat untuk bersatu melawan segala bentuk serangan yang penuh pengkhianatan".

Al-Nuaimi mengatakan bahwa aksi kekerasan yang terjadi baru-baru ini di kawasan tersebut mempertegas perlunya pertahanan bersama. "Serangan-serangan penuh pengkhianatan yang terjadi di kawasan ini mengharuskan kita untuk mengembangkan kerja sama pertahanan militer gabungan," tambahnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research