Forum BEM Rembang Himpun Data untuk Gugat Kasus Keracunan MBG

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, REMBANG — Koordinator Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahmad Fajar Mushoffa, mengatakan pihaknya sedang menghimpun data dan fakta terkait kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya. Jika memadai, dia hendak membawa kasus tersebut ke jalur pidana.

Fajar mengungkapkan, Forum BEM se-Kabupaten Rembang sebenarnya baru terbentuk dan masih melakukan konsolidasi. Kendati demikian, mereka tetap menyayangkan dan mengkritik keras berulangnya kasus dugaan keracunan MBG, termasuk yang terjadi di wilayah Rembang baru-baru ini.

“Kami sayangkan manusia hari ini hanya dilihat sebatas angka. Rasa kemanusiaan itu lama-lama enggak ada harganya, makin tergeser dengan angka,” kata Fajar ketika diwawancara, Senin (14/9/2026).

Dia menambahkan, Forum BEM se-Kabupaten Rembang tak menghendaki berulangnya kasus keracunan MBG, terutama di wilayah Rembang. “Kami ingin sebisa mungkin ada (efek) jera,” ucapnya.

Menurutnya, sanksi penangguhan sementara kepada satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dalam kasus dugaan keracunan MBG sudah tak ampuh untuk mencegah berulangnya kasus serupa. “Kami butuh evaluasi total. Kalau memang ada pidana, ya ditindak,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Fajar menyebut, saat ini pihaknya sedang berupaya menghimpun data dan fakta terkait kasus keracunan MBG di Rembang. “Kemungkinan nanti kami akan layangkan somasi,” kata dia.

Fajar menambahkan, somasi bakal ditujukan ke pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan program MBG. Kendati demikian, dia mengatakan bahwa Forum BEM se-Kabupaten Jepara turut membuka peluang untuk membawa kasus dugaan keracunan ke ranah pidana. “Arahnya nanti pasti ke sana (pelaporan pidana),” ucapnya.

Dia mengungkapkan, kasus dugaan keracunan MBG di Rembang sudah beberapa kali terjadi, termasuk tahun lalu. “Yang terjadi hari ini, yang dirasakan oleh siswa, mereka itu trauma,” ucap Fajar.

“Kalau saya lihat di media sosial, sebenarnya para orang tua itu jug sudah menolak (MBG) dan kepingin berhenti. Bahkan tetangga-tetangga saya pada bilang lebih baik diganti, entah itu dalam bentuk pendidikan gratis, ada juga yang kepingin uang tunai saja,” tambah Fajar.

Kendati demikian, Fajar menilai, para orang tua siswa terkadang tak memiliki kekuatan untuk menyampaikan apa yang menurut mereka lebih dibutuhkan para putra dan putrinya. Selain itu, dia mengaku menyayangkan pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini yang menyampaikan bahwa sebenarnya program MBG baik-baik saja. Kasus dugaan keracunan, kata Sudaryono, diramaikan oleh guru, orang tua, dan wartawan.

“Itu pandangan yang sangat ngawur. Dia tidak pernah melihat di bawah seperti apa, turun langsung menanyakan ke orang-orang tuanya, ke siswanya. Mungkin klaim-klaim dari satu orang sehingga Pak Sudaryono berbicara seperti itu. Tapi di lapangan tidak seperti itu,” ucap Fajar.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research