Tawarkan Diri Jadi Mediator, Erdogan Siap Jembatani Ketegangan Iran-Amerika Serikat

2 hours ago 1

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah eskalasi geopolitik yang kian tidak menentu, peran diplomasi Turki muncul sebagai harapan baru untuk mencegah pecahnya konflik terbuka di Timur Tengah. Sebagai negara yang memiliki kedekatan geografis dan pengaruh politik strategis, Turki berupaya mengambil peran sentral dalam mendamaikan Iran dan Amerika Serikat, demi menjaga stabilitas kawasan yang kini berada di ambang ketegangan militer tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Tawaran mediasi ini disampaikan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat (30/1/2026). Berdasarkan pernyataan resmi kepresidenan Turki, Erdogan menegaskan komitmen Ankara untuk menjadi jembatan dialog guna meredakan friksi yang melibatkan Washington dan Teheran. Langkah diplomasi ini kian diperkuat dengan rencana pertemuan Erdogan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Turki di hari yang sama.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dipicu oleh ancaman serangan militer yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump pada akhir Desember 2025. Trump secara tegas menyatakan akan mendukung serangan baru jika Iran terdeteksi melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya. Situasi kian runyam ketika Trump mengancam akan melakukan serangan besar-besaran jika otoritas Iran melakukan tindakan kekerasan fatal terhadap para demonstran yang tengah melakukan aksi protes di dalam negeri.

Ketegangan internal di Iran sendiri dipicu oleh krisis ekonomi hebat akibat lonjakan inflasi dan anjloknya nilai tukar rial. Protes massal yang meletus sejak akhir tahun 2025 di berbagai kota Iran kerap berujung pada bentrokan berdarah antara massa dan aparat keamanan. Kondisi domestik yang rapuh ini dimanfaatkan oleh Washington untuk menekan Teheran, menciptakan atmosfer "tabung gas" yang sewaktu-waktu bisa meledak menjadi perang regional jika tidak segera ditangani melalui jalur diplomasi.

Di sisi lain, upaya Turki ini muncul di tengah lobi intensif para sekutu AS di Teluk, seperti Qatar, Arab Saudi, dan Oman. Negara-negara tersebut sebelumnya telah membujuk Donald Trump untuk menahan diri dan memberikan "kesempatan kedua" bagi Iran demi menghindari konfrontasi bersenjata yang dapat melumpuhkan jalur perdagangan energi dunia. Dukungan dari negara-negara tetangga ini menjadi modal kuat bagi posisi tawar Erdogan dalam menengahi kedua belah pihak yang berseteru.

Melalui inisiatif ini, Turki memosisikan dirinya sebagai penyeimbang kekuatan di Timur Tengah, menekankan bahwa penyelesaian masalah harus dilakukan melalui negosiasi yang komprehensif daripada pengerahan kekuatan militer. Keberhasilan upaya mediasi ini nantinya akan sangat bergantung pada respons Washington terhadap tawaran "uluran tangan" dari Ankara dan sejauh mana Teheran bersedia membuka ruang dialog di bawah pengawasan internasional.

sumber : Antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research