REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemulihan tempat ibadah di wilayah Sumatera Barat yang terdampak bencana alam kini menjadi prioritas utama pemerintah pusat menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan dan dukungan agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan tenang pascatragedi.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) RI, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan pengerjaan sumur bor di masjid dan musholla agar fasilitas tersebut siap digunakan sebelum Ramadhan tiba. Hal ini ditegaskan usai meninjau pengerjaan aliran sungai di kawasan Gunung Nago, Padang, pada Jumat (30/1/2026), di mana ia menyatakan bahwa selain memulihkan fisik bangunan, pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak tetap berjalan beriringan.
Sumur bor di tempat ibadah memiliki manfaat krusial, terutama untuk menjamin ketersediaan air wudhu dan sanitasi yang layak selama aktivitas ibadah yang intens di bulan puasa. Lebih dari itu, fasilitas ini sering kali menjadi tumpuan bagi masyarakat sekitar yang sumber air pribadinya rusak akibat bencana, sehingga rumah ibadah bertransformasi menjadi titik distribusi air bersih darurat bagi lingkungan sekitarnya.
Pemanfaatan air bersih secara berkelanjutan sangat esensial dalam kehidupan sehari-hari pascabencana, terutama untuk menjaga higienitas dan mencegah penyebaran penyakit yang sering muncul akibat sanitasi buruk. Dengan akses air yang memadai, produktivitas masyarakat dapat perlahan pulih karena kebutuhan dasar untuk memasak, mencuci, dan kebutuhan sanitasi lainnya telah terpenuhi secara sehat.
Upaya ini sejalan dengan Instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan pemulihan yang cepat dan tepat sasaran. Berdasarkan pemetaan, total kebutuhan sumur bor di Kota Padang mencapai 212 titik, dengan 53 titik yang saat ini sudah masuk tahap pengerjaan. Pemerintah berkomitmen untuk mendahulukan masjid atau musholla yang membutuhkan meskipun belum masuk dalam daftar awal, dengan target penyelesaian sebelum masuk bulan puasa.
Sinergi pemulihan ini juga diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah dan lembaga filantropi. Kementerian Sosial bersama puluhan lembaga filantropi telah menghimpun dana ratusan miliar untuk membantu warga terdampak di Sumatera, termasuk bantuan logistik dan dukungan psikososial. Lembaga seperti Rumah Zakat dan sinergi filantropi di bawah koordinasi MUI serta lembaga lainnya turut berperan dalam program trauma healing dan penyaluran bantuan kemanusiaan untuk mempercepat rehabilitasi di wilayah terdampak.
Legislator asal Sumbar, Andre Rosiade, menyebutkan bahwa total anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi untuk Sumatera Barat mencapai Rp19 triliun. Dana tersebut dialokasikan secara menyeluruh untuk pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan, jembatan, irigasi, sekolah, hingga gedung perkantoran dan rumah ibadah, dengan prinsip build back better agar daerah terdampak bangkit dengan kondisi yang lebih aman dan tangguh.
sumber : Antara

3 hours ago
1














































