REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Produk turunan kelapa sawit dinilai dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi pelaku Usaha Kecil, Mikro, dan Koperasi (UKMK). Selain memiliki nilai tambah yang tinggi, usaha tersebut dapat dijalankan dalam skala kecil dan menengah tanpa membutuhkan investasi besar.
Peluang tersebut mengemuka dalam Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026 bertema "Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK". Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan produk turunan sawit dapat menjadi salah satu alternatif usaha yang layak dikembangkan oleh pelaku UKMK di daerahnya. Menurut dia, selama ini kelapa sawit kerap hanya dikaitkan dengan minyak goreng, padahal komoditas tersebut memiliki banyak potensi untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
"Ketika kita mendengar kata kelapa sawit, yang pertama kali terlintas di benak kita sebagian besar pasti minyak goreng. Namun, hari ini kita hadir di sini untuk membuka mata dan mendobrak batasan tersebut," kata Grengseng dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang, Edi Wasono, dikutip Rabu (17/6/2026).
Ia menjelaskan, berbagai produk turunan sawit memungkinkan diproduksi oleh pelaku usaha skala kecil maupun menengah. Kondisi itu membuat sektor tersebut dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat tanpa harus mengeluarkan modal besar.
"Produk-produk turunan ini sangat memungkinkan untuk diproduksi dalam skala usaha kecil dan menengah. Kita tidak perlu pabrik seluas hektare untuk memulainya. Kita bisa memulainya dari workshop kecil, dari rumah, dengan memanfaatkan teknologi dan ilmu yang dibagikan dalam forum workshop ini," ujarnya.
Grengseng berharap pelaku UKMK di Magelang tidak hanya menjadi penonton dalam rantai industri sawit nasional. Menurut dia, UKMK daerah memiliki kesempatan untuk ikut mengambil peran melalui pengembangan berbagai produk turunan yang inovatif dan berdaya saing.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Helmi Muhansyah mengatakan industri sawit menyimpan banyak peluang usaha yang dapat dimanfaatkan pelaku UKMK, termasuk di wilayah yang bukan penghasil kelapa sawit.
Menurut dia, perkembangan rantai pasok nasional membuat ketersediaan bahan baku tidak lagi menjadi kendala utama bagi pelaku usaha di daerah non-sawit.
"Ada potensi-potensi di kelapa sawit ini yang bisa diusahakan oleh UKMK-UKMK, termasuk di Magelang. Walaupun di Magelang tidak ada kelapa sawit, isu keberadaan bahan bakunya karena kita sudah terkoneksi menjadi tidak relevan," kata Helmi melalui sambungan virtual.
Ia menyampaikan pengembangan UKMK berbasis sawit sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen sebagaimana ditargetkan Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, penguatan ekonomi rakyat menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai target tersebut.
BPDP, lanjut Helmi, terus memberikan dukungan bagi pelaku UKMK melalui berbagai program pemberdayaan. Salah satunya melalui Program Inkubasi Bisnis UMKM Perkebunan yang memberikan pendampingan mulai dari pengembangan produk, penguatan kapasitas usaha, hingga perluasan akses pasar.
BPDP juga memfasilitasi pelatihan dan workshop inovasi produk turunan sawit, seperti sabun, kosmetik, dan kerajinan. Dukungan promosi dilakukan melalui berbagai pameran dan expo, etalase permanen di Gedung SMESCO Jakarta, hingga katalog produk UKMK berbasis kelapa sawit.
Menurut Helmi, langkah tersebut bertujuan membantu pelaku usaha meningkatkan nilai tambah produk, memperluas pasar, dan memperkuat daya saing.
Sejumlah alumni Program Inkubasi Bisnis UMKM Perkebunan BPDP bahkan telah berhasil menembus pasar ekspor. Salah satunya Muhammad Abdu Shadli melalui CV Surya Agro Nusantara yang mengekspor produk lidi sawit ke India dan Nepal.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menilai kelapa sawit memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif dan bernilai ekonomi tinggi. Ia mengatakan peluang tersebut perlu didukung pengetahuan, keterampilan, dan keberanian pelaku usaha untuk berinovasi.
Damar juga mengapresiasi penyelenggaraan Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026 yang digagas Majalah Hortus Archipelago dengan dukungan BPDP. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas pelaku usaha, tetapi juga memperluas pemahaman masyarakat mengenai praktik sawit yang baik dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap semakin banyak pelaku UKMK yang mampu menangkap peluang dari industri sawit dan mengembangkannya menjadi usaha yang produktif, inovatif, serta berdaya saing.

3 hours ago
3













































