- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragama IHSG menguat sementara rupiah melemah.
- Wall Street kembali bangkit hampir ke level tertingginya lagi walaupun mengalami sedikit penurunan.
- Kelanjutan perang Iran-AS dan rilis data penjualan eceran RI menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Jumat (10/4/2026). Bursa saham naik, Rupiah melemah, dan SBN mengalami pelandaian pada perdagangan kemarin.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tekanan yang cukup berat pada hari ini karena ketidakpastian perang yang masih terjadi ditambah kabar terbaru di mana AS dan Iran tidak mendapatkan kesepakatan setelah berunding bersama dengan Pakistan.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 2% kemarin, Jumat (10/4/2026). Pada penutupan perdagangan kemarin indeks naik 2,07% ke level 7.458,49 atau menguat 151 poin.
Kenaikan ini melanjutkan rebound IHSG yang telah berlangsung dua hari terakhir dimulai kala indeks melesat tajam pada perdagangan Rabu (8/4) dengan kenaikan lebih dari 4%.
Sebanyak 181 saham turun, 485 naik, dan 153 belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 18,13 triliun, melibatkan 42,94 miliar saham dalam 2,28 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar pun terkerek menjadi Rp 13.215 triliun.
Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan tercatat menguat kemarin dengan kenaikan tertinggi dibukukan oleh sektor barang baku, konsumer non primer dan properti.
Saham-saham yang paling ramai ditransaksikan kemarin termasuk BUMI, BBRI dan BBCA. Adapun saham perdana yang melantai di bursa tahun ini PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) memimpin penguatan dengan kenaikan 34% atau menyentuh ARA. saham-saham lain yang ikut menguat signifikan kemarin termasuk PT Bank Mega (MEGA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Saham-saham emiten konglomerat serta emiten blue chip dengan kapitalisasi besar tercatat menjadi penggerak kinerja IHSG kemarin.
Saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin dengan sumbangsih 21,17 indeks poin dan diikuti oleh saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang telah melakukan RUPST siang tadi, dengan salah satu mata acara pembagian dividen juga menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin dengan sumbangsih 17,33 indeks poin.
Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) juga merupakan penopang utama IHSG dengan sumbangan 18,17 indeks poin. Tercatat saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu kompak menguat pada perdagangan kemarin.
Emiten lainnya yang menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin termasuk PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) milik Grup Sinar Mas, MSIN milik Grup MNC hingga PANI milik Aguan.
Pasar saham Asia-Pasifik dibuka mayoritas menguat pada perdagangan Jumat (11/4/2026), di tengah gencatan senjata rapuh selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat pelaku pasar tetap waspada.
Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), rupiah ditutup di posisi Rp17.085/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,03%.
Padahal, pada awal perdagangan Jumat pagi, rupiah sempat dibuka menguat 0,09% ke level Rp17.065/US$. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan rupiah berbalik melemah hingga akhir perdagangan.
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap greenback pada perdagangan kemarin dipengaruhi oleh sentimen dari dalam maupun luar negeri.
Analis mata uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai, dari eksternal pelemahan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Rencana kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran dan Israel menjadi sentimen kunci dalam waktu dekat.
"Tiga hari lalu ada perjanjian akan ditandatangani di Pakistan antara Amerika dengan Iran dan Israel tentang gencatan senjata selama 2 minggu. Nah, apakah ini berhasil atau tidak tergantung dari ini. Kalau seandainya berhasil, ada penandatanganan selama 2 minggu, ya kemungkinan besar rupiah akan mengalami penguatan," ujar Ibrahim kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (10/4/2026).
Lanjut ke pasar obligasi dalam negeri, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia ditutup di level 6,548% pada kemarin Jumat (10/4/2026) bergerak di range 6.547-6.576 dari level sebelumnya yang ditutup di level 6,576%.
Imbal hasil melandai dan ini menandai harga SBN yang tengah naik karena dibeli investor.
















































