Sentimen Global Membaik, Harga Bitcoin Menguat Usai Kesepakatan AS-Iran

8 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sentimen pasar global kembali membaik setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz. Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengungkapkan, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan ruang bagi investor untuk kembali meningkatkan eksposur terhadap aset yang memiliki karakteristik volatilitas tinggi setelah beberapa pekan pasar dibayangi sentimen kehati-hatian.

Meredanya ketidakpastian geopolitik tersebut, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (16/6/2026), mendorong investor kembali masuk ke aset dengan volatilitas tinggi, termasuk aset kripto. Kondisi itu membuat harga Bitcoin sempat menembus level 65.900 dolar AS pada Senin (15/6/2026).

“Pasar kripto saat ini merespons membaiknya sentimen global setelah ketidakpastian geopolitik mulai mereda. Ketika risiko global menurun, investor cenderung kembali meningkatkan eksposur terhadap aset dengan volatilitas tinggi, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya. Hal tersebut yang saat ini turut mendorong pemulihan harga di pasar,” ujarnya.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (15/6/2026), Bitcoin diperdagangkan di kisaran 63.900-65.900 dolar AS atau naik sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir.

Penguatan tersebut juga menempatkan Bitcoin hampir 8 persen di atas level terendah pekan lalu yang sempat berada di bawah 60.900 dolar AS.

Menurut dia, selain Bitcoin, mayoritas aset kripto utama juga mencatat penguatan. Ethereum naik sekitar 5,1 persen ke level 1.758 dolar AS, sedangkan Solana menguat 6,6 persen menjadi 72,6 dolar AS.

Sementara itu, XRP bertambah 7,1 persen ke level 1,2 dolar AS. Di antara aset kripto berkapitalisasi besar, Hyperliquid (HYPE) menjadi salah satu aset dengan kenaikan tertinggi setelah menguat sekitar 11,6 persen ke level 67,8 dolar AS.

Penguatan pasar kripto terjadi seiring membaiknya sentimen risiko global. Setelah kesepakatan AS-Iran diumumkan, harga minyak mentah Brent terkoreksi lebih dari 4 persen menuju kisaran 83 dolar AS per barel karena pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani prospek ekonomi global.

Pada saat yang sama, lanjut dia, pasar saham Asia menguat, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak positif, dan tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.

Di tengah sentimen pasar yang mulai membaik, Aloysia mengingatkan keberlanjutan tren positif ini masih bergantung pada sejumlah faktor yang akan menentukan apakah penguatan Bitcoin dapat berlanjut dalam waktu dekat.

Meredanya ketegangan geopolitik tentu menjadi perkembangan yang positif bagi pasar. Namun, investor masih perlu mencermati berbagai faktor lain, termasuk arus dana institusional melalui ETF Bitcoin Spot, perkembangan regulasi, kebijakan moneter global, minat investor, serta kondisi likuiditas global.

“Oleh karena itu, kami melihat penting bagi investor untuk tetap memperhatikan perkembangan pasar secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu sentimen tertentu,” ujar Aloysia.

Salah satu indikator yang akan menjadi perhatian pasar adalah pergerakan atau arus dana pada ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat. Dalam sepekan terakhir, instrumen tersebut mencatat outflow sebesar 1,72 miliar dolar AS yang menunjukkan sebagian investor institusional masih bersikap hati-hati terhadap aset berkarakteristik volatil.

Menurut dia, selain sentimen geopolitik, pasar juga masih mencermati sejumlah faktor fundamental yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan. Salah satunya adalah minat investor institusional yang tercermin dari arus dana pada ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat.

sumber : Antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research