Selat Hormuz Memanas! Pupuk, Pakan Ternak hingga Gandum Dunia Terancam

4 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

11 March 2026 13:45

Jakarta, CNBC Indonesia- Selat Hormuz sering dibahas dalam konteks minyak. Padahal, jalur laut ini juga bersinggungan dengan perdagangan bahan pangan global.

Konflik yang melibatkan Iran membuat arus kapal di kawasan Teluk Persia mengalami gangguan dan menciptakan ketidakpastian baru pada rantai pasok komoditas pertanian.

Selat ini menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dan laut terbuka. Banyak kapal energi dan komoditas bergerak melalui koridor sempit tersebut setiap hari. Melansri IFPRI, sekitar 27% ekspor minyak dunia dan 20% perdagangan LNG global melintasi jalur ini. Dalam rantai produksi pangan, jalur tersebut berkaitan dengan distribusi pupuk dan bahan bakar yang menjadi fondasi produksi pertanian.

Perubahan situasi keamanan langsung memukul aktivitas pelayaran. Serangan drone dan roket terhadap kapal komersial meningkatkan biaya asuransi serta risiko operasional. Laporan riset menyebutkan aktivitas pelayaran di kawasan ini turun lebih dari 70% sejak konflik meningkat. Pengurangan arus kapal memperlambat pengiriman energi dan input pertanian ke berbagai negara.

Gangguan tersebut merembet ke pasar pupuk. Sekitar 20-30% perdagangan pupuk global bergerak melalui jalur yang sama. Gas alam yang menjadi bahan baku pupuk nitrogen juga berasal dari kawasan Teluk. Ketika arus energi tersendat, biaya produksi pupuk naik.

Dalam laporan yang sama, harga minyak tercatat naik sekitar US$10 per barel, sementara harga gas Eropa melonjak lebih dari 50%. Harga urea dari Timur Tengah meningkat sekitar US$90 per ton, atau hampir 19%.

Dampak lanjutan terlihat pada perdagangan pakan ternak. Konflik yang melibatkan Iran mulai mengganggu arus komoditas pertanian dari Amerika Selatan menuju kawasan tersebut. Beberapa pengiriman soymeal yang telah dibeli importir Iran dilaporkan dibatalkan atau dialihkan ke pasar lain karena risiko pelayaran meningkat dan akses Selat Hormuz terganggu.

Iran sendiri merupakan pembeli penting untuk komoditas tersebut. D Iran mengimpor 581.478 ton soymeal dari Brasil pada 2025. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan 2,1 juta ton pada 2024. Dari Argentina, pengiriman soymeal ke Iran mencapai sekitar 1 juta ton pada 2025, lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Ketika konflik mempersulit pelayaran menuju Teluk, sebagian kontrak pengiriman menjadi tidak pasti.

Perubahan rute kapal menciptakan tekanan tambahan pada pelabuhan asal. Beberapa sumber pasar menyebutkan kapal yang seharusnya menuju Iran kini mencari tujuan alternatif. Jika muatan tidak segera terserap, stok dapat menumpuk di pelabuhan ekspor seperti Paranaguá di Brasil. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kerugian bagi eksportir dan pedagang komoditas.

Kawasan Teluk pada saat yang sama sangat bergantung pada impor pangan. Negara-negara di wilayah ini membeli gandum, minyak nabati, kedelai, dan gula dari pasar internasional. Konsumsi gandum per kapita bahkan melampaui 100 kilogram per tahun. Ketergantungan tersebut membuat stabilitas jalur pelayaran menjadi faktor penting bagi pasokan pangan regional.

Ketika arus kapal berkurang, biaya logistik meningkat dan jadwal pengiriman bergeser. Situasi ini memperbesar volatilitas harga komoditas pertanian karena biaya energi dan pupuk ikut naik.

Produksi pangan global sangat sensitif terhadap perubahan harga input. Jika harga pupuk bertahan tinggi dalam waktu lama, penggunaan pupuk dapat turun pada musim tanam berikutnya dan memengaruhi hasil panen.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research