Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
01 May 2026 18:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun ini. Namun, tekanan tersebut tidak hanya dialami mata uang Garuda. Sejumlah mata uang negara lain bahkan mencatat pelemahan yang lebih dalam terhadap dolar AS.
Pada perdagangan Kamis (30/4/2026), rupiah kembali melemah dan mencetak level penutupan terlemah sepanjang masa.
Melansir Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.305/US$. Posisi tersebut sekaligus menjadi penutup perdagangan rupiah sepanjang April, dengan pelemahan 1,85% terhadap greenback dalam sebulan.
Adapun jika dihitung sejak awal tahun atau secara year to date (ytd), mata uang Garuda telah terdepresiasi 3,81% terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari kuatnya dolar AS dan lonjakan harga minyak dunia setelah perang AS-Iran meletus pada akhir Februari lalu.
Konflik tersebut memicu gangguan pasokan energi global, terutama setelah Selat Hormuz ditutup. Jalur ini merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia karena dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
Bagi negara importir minyak seperti Indonesia, kenaikan harga energi menjadi tekanan tambahan. Kebutuhan dolar AS untuk membayar impor minyak ikut meningkat, sementara risiko inflasi dan tekanan terhadap neraca perdagangan juga bertambah.
Namun, rupiah bukan satu-satunya mata uang emerging market yang tertekan. Bahkan, sejumlah mata uang negara lain mencatat pelemahan lebih dalam terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan.
Beberapa di antaranya adalah rupee India, peso Filipina, lira Turki, dan pound Mesir.
Khusus India dan Filipina, perbandingannya lebih relevan karena keduanya juga merupakan negara Asia yang cukup bergantung pada impor minyak, sehingga menghadapi tekanan eksternal yang cukup mirip dengan Indonesia.
Rupee India Tertekan Harga Minyak
Rupee India menjadi salah satu mata uang yang pelemahannya lebih dalam dibandingkan rupiah. Sepanjang tahun berjalan, rupee India tercatat melemah 5,87% terhadap dolar AS ke level INR 95,16/US$.
Rupee India sempat menyentuh level terendah sepanjang masa di INR 95,30/US$ pada perdagangan Kamis (30/4/2026) secara intraday.
Pelaku pasar menilai rupee masih berisiko melemah lebih lanjut karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan beban impor India secara signifikan. Kekhawatiran terhadap potensi konflik yang lebih luas di Asia Barat juga menambah kegelisahan investor.
Peso Filipina Juga Lebih Dalam
Selain India, peso Filipina tercatat melemah 4,52% secara ytd terhadap dolar AS ke level PHP61,457/US$.
Filipina, seperti Indonesia dan India, juga merupakan negara importir minyak. Karena itu, kenaikan harga energi global dapat memberi tekanan terhadap peso melalui peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor.
Lira Turki dan Pound Mesir Lebih Tertekan
Pelemahan yang lebih dalam juga terlihat pada lira Turki dan pound Mesir. Lira Turki tercatat melemah 5,19% secara ytd terhadap dolar AS ke level TRY 45,18/US$.
Tekanan terhadap lira kerap dikaitkan dengan inflasi tinggi, kebutuhan pembiayaan eksternal, dan sentimen terhadap kebijakan ekonomi domestik.
Sementara itu, pound Mesir menjadi salah satu mata uang paling tertekan. Pound Mesir melemah 12,77% secara ytd ke level EGP 53,69/US$.
Rupee Nepal dan Dinar Libya Juga Tertekan Lebih Dalam
Di luar empat mata uang utama tersebut, tekanan yang lebih dalam dari rupiah juga terlihat pada rupee Nepal dan dinar Libya.
Keduanya memang bukan pembanding utama karena karakter ekonomi dan pasar keuangannya berbeda dari Indonesia, tetapi tetap mencatat depresiasi yang lebih besar terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan.
Rupee Nepal melemah 5,86% sejak tahun berjalan terhadap dolar AS ke level NPR152,24/US$. Sementara itu, dinar Libya menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam dalam daftar ini, yakni 17,23% secara ytd ke level LYD6,33/US$.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google















































