Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
01 May 2026 14:30
Jakarta, CNBC Indonesia — Setiap tanggal 1 Mei, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Perayaan ini identik dengan aksi solidaritas kelas pekerja dalam menuntut hak, keamanan, dan kesejahteraan yang lebih layak di tempat kerja.
Namun, terdapat satu perbedaan sejarah yang cukup menarik perhatian. Meskipun akar sejarah peringatan 1 Mei berasal dari peristiwa berdarah di Amerika Serikat, negara tersebut justru tidak merayakan Hari Buruh pada tanggal ini.
Amerika Serikat memiliki hari libur nasionalnya sendiri yang disebut Labor Day, yang jatuh pada hari Senin pertama di bulan September setiap tahunnya.
Tragedi Haymarket dan Akar 1 Mei
Secara historis, peringatan 1 Mei bermula di kota Chicago, Amerika Serikat. Pada tanggal 1 Mei 1886, ratusan ribu buruh menggelar aksi mogok kerja berskala nasional. Fokus utama mereka adalah menuntut pemberlakuan jam kerja maksimal 8 jam sehari.
Tuntutan ini muncul karena pada masa revolusi industri tersebut, diperkirakan lebih dari 80% pekerja pabrik harus bekerja antara 10 hingga 16 jam per hari dalam kondisi yang tidak aman.
Aksi demonstrasi yang awalnya berlangsung damai ini berubah menjadi kekacauan pada tanggal 4 Mei di Haymarket Square. Sebuah bom rakitan dilemparkan ke arah barisan kepolisian, yang memicu baku tembak dan menewaskan belasan orang, baik dari pihak aparat maupun warga sipil.
Peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Haymarket. Sebagai bentuk penghormatan terhadap para pekerja yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, Kongres Sosialis Internasional pada tahun 1889 menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.
Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto
Ketakutan Terhadap Gerakan Radikal
Mengingat sejarahnya berawal di Chicago, alasan pemerintah Amerika Serikat menolak tanggal 1 Mei berkaitan erat dengan dinamika politik domestik pada masa itu. Keputusan untuk memisahkan perayaan Hari Buruh Amerika Serikat dari tanggal 1 Mei diformalkan oleh Presiden Grover Cleveland pada tahun 1894.
Pada tahun tersebut, pemerintah federal sedang menghadapi tekanan berat akibat mogok kerja Pullman yang melumpuhkan hampir seluruh jaringan transportasi kereta api nasional.
Untuk meredakan ketegangan dan kemarahan publik, Presiden Cleveland dan Kongres sepakat untuk segera meresmikan hari libur nasional bagi para pekerja. Namun, Presiden Cleveland beserta kelompok konservatif lainnya secara tegas menghindari pemilihan tanggal 1 Mei.
Mereka khawatir bahwa menetapkan 1 Mei sebagai hari libur resmi justru akan melegitimasi gerakan radikal dan terus menggemakan sentimen anarkisme serta sosialisme yang melekat erat pada memori Tragedi Haymarket. Mengadopsi tanggal tersebut dinilai dapat memicu kerusuhan lebih lanjut di masa depan.
Menetapkan Bulan September
Sebagai alternatif yang lebih aman secara politis, pemerintah Amerika Serikat memilih bulan September. Pemilihan ini merujuk pada sebuah parade buruh yang diselenggarakan oleh Central Labor Union di pada 5 September 1882.
Parade tersebut merupakan bentuk perayaan damai yang berfokus pada apresiasi terhadap kontribusi ekonomi para pekerja, tanpa adanya muatan protes radikal atau agitasi perjuangan kelas sayap kiri.
Dengan meresmikan hari Senin pertama di bulan September sebagai Labor Day, pemerintah Amerika Serikat berhasil mengakomodasi tuntutan serikat pekerja untuk mendapatkan hari libur resmi, sekaligus secara efektif memutus rantai narasi sejarah dengan gerakan sosialis internasional.
Kebijakan serupa pada akhirnya juga diadopsi oleh negara tetangganya, Kanada, yang menetapkan perayaan Hari Buruh di bulan September demi menjaga stabilitas industri dan politik negara.
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google















































