Sebait Doa di Antara Dua Pilihan Part 2

5 hours ago 7

Image Rizki Anugerah Lastiyanto

Sastra | 2026-08-17 11:04:16

Sebait Doa di Antara Dua Pilihan Part 2 (Sumber: Dall-E)

Pendar layar ponsel memecah keheningan kamar Andi malam itu. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul, menampilkan nama yang belakangan ini sering membuat dadanya berdesir tak menentu: Eta. Sejak pertemuan di pesta pernikahan waktu itu, komunikasi yang awalnya canggung berangsur-angsur mencair. Mereka berdua mulai intens saling mengirim pesan.

“Ndi, kamu masih sibuk cari kerja, kan? Di kantorku, perusahaan kosmetik ini, lagi butuh staf untuk jadi asistenku. Kalau kamu mau, besok aku bisa langsung rekomendasikan ke HRD,” tulis Eta.

Pesan itu bagai oase di tengah kerontangnya harapan. Berbulan-bulan Andi menyebar lamaran tanpa hasil, dan kini ada jalan pintas yang ditawarkan langsung dari dalam. Tanpa ragu, jemari Andi lekas mengetik balasan berisi ucapan terima kasih dan antusiasme. Malam itu, ia tidur dengan sebait asa yang baru mekar.

Keesokan harinya, dengan dada busung penuh harapan, Andi menyampaikan kabar baik itu kepada ibunya di ruang tengah.

"Kerja di mana, Ndi?" tanya Ibu sambil melipat mukenanya.

"Di perusahaan tempat Eta kerja, Bu. Kebetulan Eta menawarkan lowongan posisi asisten di kantornya. Jadi nanti Andi kerja satu kantor dan bantu-bantu tugas Eta," jawab Andi, mencoba terdengar sesantai mungkin.

Gerakan tangan Ibu seketika terhenti. Gurat kelembutan di wajah wanita paruh baya itu mendadak pudar, digantikan oleh ketegasan yang dingin.

"Ibu tidak setuju," ucap ibunya mutlak. "Ibu tidak suka kamu bekerja satu kantor dengan Eta."

Andi tercekat, senyumnya luntur seketika. "Tapi kenapa, Bu? Ini peluang kerja yang sudah lama Andi tunggu..."

"Rezeki itu Allah yang atur, Ndi, bukan Eta," potong Ibu cepat. Helaan napas lelah meluncur dari bibirnya. "Ibu perhatikan belakangan ini kamu sering sekali memegang ponsel. Kamu pasti terus-terusan bertukar pesan dengan dia, kan? Ibu sungguh tidak suka komunikasi kalian yang terlalu sering."

"Andi cuma membahas soal pekerjaan dan bertukar kabar biasa, Bu," sanggah Andi pelan.

"Hari ini bahas pekerjaan, besok lusa bahas apa? Kamu asistennya, Ndi. Kamu akan menempel terus dengan dia setiap hari. Pokoknya, Ibu tidak suka kamu dekat-dekat dengan Eta." Mata Ibu mulai berkaca-kaca, menatap putra tunggalnya dengan sorot kepedihan. "Sungguh, Ndi, Ibu justru sangat rindu kepada sosok Eta pada masa lalu. Ke mana perginya Eta yang rajin mengaji di surau bersamamu? Ibu rindu melihat wajah teduhnya saat memakai jilbab, bukan Eta yang sekarang berani membuka auratnya dan tampil semenor itu"

Ada getar pilu dalam suara Ibu yang membuat dada Andi terasa sesak. Ingatan tentang Eta yang selalu berebut rakaat pertama di surau dengan balutan mukena putih kembali berkelebat di benaknyaF

"Ibu takut, Ndi," lanjut ibunya lirih. "Niatmu mungkin ingin mencari nafkah yang halal, atau bahkan diam-diam ingin meluruskan niatnya nanti. Tapi bagaimana jika malah kamu yang terseret arusnya? Bagaimana wibawamu kelak sebagai seorang imam, jika dari awal kamu memposisikan diri sebagai bawahan dari perempuan yang sedang lari dari nilai-nilai agama yang dulu kalian pegang erat?"

Andi terdiam seribu bahasa. Di satu sisi, ia sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk segera berdiri di atas kakinya sendiri dan membuktikan kapasitasnya. Namun di sisi lain, restu ibunya adalah pintu langit yang tak berani ia tutup.

Konflik batin ini mengurungnya dalam ruang bimbang yang menyiksa. Di atas meja, layar ponselnya kembali menyala, menampilkan pesan baru dari Eta yang menanyakan kelengkapan berkas lamarannya. Namun kali ini, ponsel itu hanya Andi tatap nanar. Ia kembali harus bersimpuh di atas sajadahnya, merapalkan doa yang lebih panjang di antara dua persimpangan yang sama-sama curam.

Di bawah temaram lampu kamarnya, Andi memandangi layar ponsel yang terus menyala. Jari-jarinya gemetar di atas papan tik virtual, merangkai kata demi kata yang terasa berat untuk dikirim. Ia tidak mungkin berterus terang bahwa restu ibunya menjadi benteng penghalang. Beruntung, pagi tadi Rudi, sepupunya yang bekerja di Pelabuhan Tanjung Perak, sempat menelepon dan menawarkannya posisi tenaga administrasi gudang. Meski gajinya mungkin tak seberapa dibandingkan perusahaan kosmetik di pusat kota, tawaran itu nyata dan halal.

Andi menarik napas panjang, lalu menekan tombol kirim.

“Ta, terima kasih banyak atas tawarannya dan usahamu merekomendasikan aku ke HRD. Tapi sepertinya aku belum bisa bergabung. Mas Rudi, sepupuku, baru saja memintaku membantunya bekerja di pelabuhan. Sekali lagi, maaf ya, Ta, sudah merepotkanmu.”

Hanya butuh beberapa menit sebelum balasan Eta masuk. Namun, kalimat yang terpampang di layar sukses membuat dada Andi berdesir perih.

“Oh, gitu ya, Ndi. Padahal aku sudah capek-capek memohon ke manajerku supaya kamu bisa langsung wawancara besok. Aku kira kamu butuh bantuan. Ya sudah, kalau memang lebih memilih kerja di pelabuhan. Sukses terus ya.”

Tidak ada lagi emotikon senyum. Pesan itu terasa dingin dan berjarak. Andi buru-buru mengetik permintaan maaf yang lebih panjang, mencoba menjelaskan betapa ia sangat menghargai bantuan Eta. Namun, pesan itu hanya berujung pada dua centang biru. Keesokan harinya, Andi kembali menyapa sekadar menanyakan kabar, tetapi kali ini hanya centang abu-abu. Hari berganti hari, pesan-pesan Andi menggantung tanpa balasan. Eta benar-benar menghilang, mengubur komunikasi mereka dalam keheningan yang menyiksa.

Kehilangan kontak dengan Eta rupanya berdampak lebih besar dari yang Andi perkirakan. Bayangan tentang kekecewaan gadis itu terus berputar di kepalanya. Andi berubah menjadi pemurung. Ia sering kedapatan melamun di meja makan, membiarkan teh hangatnya menjadi dingin, dan tak lagi seantusias biasanya saat menyiapkan berkas-berkas lamaran untuk dibawa ke pelabuhan.

Perubahan drastis itu tentu saja tidak luput dari mata sang Ibu.

Suatu sore, saat Andi tengah duduk menatap kosong ke arah layar ponsel di ruang tengah, Ibunya menghampiri dan duduk di sebelahnya. Ada gurat keheranan sekaligus kekhawatiran di wajah wanita paruh baya itu.

"Kamu ini kenapa toh, Ndi? Ibu perhatikan sejak kamu menolak tawaran dari perusahaan kosmetik itu, kamu malah tidak bersemangat lagi. Bukannya kamu seharusnya bersiap-siap untuk berangkat kerja ke pelabuhan bersama Ibumu? Kenapa malah sering murung dan melamun seperti orang putus asa begini?" tegur Ibu, suaranya mengalun lembut namun menuntut jawaban.

Andi tersentak, buru-buru meletakkan ponselnya dengan posisi terbalik di atas meja. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya dengan gelisah. Pertahanan batinnya runtuh oleh teguran sang Ibu.

"Andi... Andi lost contact dengan Eta, Bu," akunya dengan suara serak, nyaris berbisik. "Sejak Andi beralasan memilih pekerjaan dari Mas Rudi, Eta merasa tidak dihargai. Dia marah, Bu. Sudah berhari-hari dia tidak mau membalas pesan Andi. Andi merasa bersalah karena sudah mengecewakannya."

Hening sejenak. Namun, keheningan itu bukanlah tanda simpati. Saat Andi memberanikan diri menengadah, ia melihat rahang ibunya mengeras. Sorot mata kelembutan itu menguap seketika, digantikan oleh kilat kemarahan yang tertahan.

"Lalu kenapa kalau dia tidak membalas pesanmu?!" nada suara Ibu meninggi, membuat Andi sedikit terjengkit. "Apakah hidupmu hanya bergantung pada balasan WhatsApp dari perempuan itu? Hanya karena satu penolakan, dia langsung memutus tali silaturahmi dan membuatmu hancur seperti ini?"

"Bukan begitu, Bu, Andi hanya merasa tidak enak karena..."

"Lupakan dia, Ndi!" potong Ibu tegas, jari telunjuknya mengarah lurus ke dada Andi. "Kalau memang dia perempuan yang baik dan mengerti keadaanmu, dia tidak akan bersikap kekanak-kanakan dan merasa paling tidak dihargai. Kamu harus berhenti menyiksa dirimu sendiri untuk hal yang tidak diridhai!"

Ibu berdiri dari duduknya, menatap Andi dengan dada yang naik-turun menahan emosi.

"Ibu sudah bilang, lupakan Eta! Buka matamu lebar-lebar, Ndi. Eta sudah berubah. Eta yang sekarang bukan Eta yang dulu lagi! Jangan biarkan hatimu tersandera oleh masa lalu dari seseorang yang bahkan enggan memahami pilihan hidupmu."

Kata-kata Ibu menghujam layaknya belati yang dingin, menancap tepat di pusat keraguan Andi. Di luar jendela, langit sore perlahan berubah jingga kelabu, seolah mewakili hatinya yang kini dipaksa untuk benar-benar mengikhlaskan sebuah nama yang terlanjur mekar dalam diam.

Sepeninggal sang Ibu yang berlalu kembali ke kamarnya, Andi hanya bisa terpaku menatap debu yang menari di bawah sorot lampu ruang tengah. Nasihat keras itu memaksanya menelan realitas pahit; ia memang harus melangkah maju. Dengan dada yang terasa seberat karung beras, Andi meraih ponselnya yang telungkup, berniat menghapus kontak Eta selamanya dan mengubur masa lalu itu dalam-dalam. Namun, tepat sebelum ibu jarinya menekan opsi 'hapus', gawai itu mendadak bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Andi ragu sejenak sebelum menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Bukannya sapaan asing yang terdengar, melainkan isak tangis tertahan dari seorang perempuan yang sangat ia kenali tawanya.

"Ndi... tolong aku..."

Suara Eta terdengar parau dan gemetar, diiringi suara pecahan barang dari seberang sana, sebelum sambungan telepon itu terputus begitu saja. Darah Andi seketika berdesir, membekukan seluruh kewarasannya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Eta di sana? Dan mampukah Andi mengabaikan jeritan itu demi menjaga ketaatannya pada sang Ibu?

(Bersambung)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research