Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas babak belur pada akhir pekan ini. Secara mingguan, harga emas bahkan jatuh ke rekor terburuk sejak Maret 1983 atau 43 tahun terakhir.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan ini ditutup di posisi US$ 4494,02 per troy ons. Harganya ambruk 3,32%.
Pelemahan ini juga memperpanjang derita emas dengan ambruk 13,43% dalam delapan hari beruntun.
Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 7 Januari 2026 (SUS$ 4475 per troy ons) atau lebih dari tiga bulan.
Penurunan emas selama delapan hari ini juga menjadi yang pertama sejak akhir September dan awal Oktober 2023 atau 2,5 tahun lebih di mana emas ambruk delapan hari. Namun, dengan penurunan hanya 5,45%.
Rekor terburuk emas juga tercatat untuk pergerakan seminggu.
Dalam sepekan terakhir, harga emas ambruk 10,58%. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak pekan yang berakhir di 4 Maret 1983 atau 43 tahun lalu.
Harga emas babak belur setelah laporan menyebut Amerika Serikat (AS) akan mengerahkan tambahan pasukan ke Timur Tengah. Hal ini memicu kekhawatiran akan kenaikan harga minyak, inflasi, dan pada akhirnya suku bunga yang lebih tinggi.
Indeks dolar menguat ke 99,65 pada perdagangan kemarin, dari 99,23 pada perdagangan Kamis. Sementara itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun melesat ke 4,39% atau tertinggi sejak Juli 2025.
Pembelian emas dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar membuat harga konversi lebih mahal dan menekan permintaan.
Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga tidak menarik saat imbal hasil obligasi menguat.
Laporan Reuters yang mengutip tiga pejabat AS menyebut militer AS mengirim ribuan tambahan marinir dan pelaut ke Timur Tengah.
Perang AS-Israel melawan Iran telah menewaskan ribuan orang, meluas ke kawasan Timur Tengah, dan mengguncang ekonomi global sejak kedua negara melancarkan serangan bersama pada 28 Februari. Blokade berkepanjangan Iran di Selat Hormuz berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi dan mendorong inflasi.
"Emas dan perak terseret turun karena pasar menghadapi 'tembok kekhawatiran' menjelang akhir pekan. Dua Jumat terakhir mencatat reli harga minyak mentah, yang memicu penguatan dolar AS serta aksi jual di saham, obligasi, dan logam, yang kini bergerak seiring aset lain sejak perang dimulai," ujar Tai Wong, trader logam independent, kepada Reuters.
Dia menambahkan logam mulia menjadi sangat volatil setelah penurunan tajam minggu ini akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga. "
"Logam mulia menjadi sangat volatil setelah penurunan tajam minggu ini akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga. Kemungkinan akan segera konsolidasi, tetapi pergerakannya tetap akan bergejolak."imbuhnya.
Emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, namun kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik aset ini karena tidak memberikan imbal hasil.
Sejumlah broker global besar melihat kemungkinan lebih tinggi bahwa Bank Sentral Eropa dan Bank of England akan menaikkan suku bunga, bahkan berpotensi secepat April.
Sementara itu, The Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada Rabu lalu dan memproyeksikan inflasi yang lebih tinggi. Ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan arah kebijakan ke depan sangat tidak pasti akibat perang.
Emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, namun kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik aset ini karena tidak memberikan imbal hasil.
Sejumlah broker global besar melihat kemungkinan lebih tinggi bahwa Bank Sentral Eropa dan Bank of England akan menaikkan suku bunga, bahkan berpotensi secepat April. Sementara itu, Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada Rabu lalu dan memproyeksikan inflasi yang lebih tinggi. Ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan arah kebijakan ke depan menghadapi tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi akibat perang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google

















































