Ratapan Warga Tambaksari Semarang Terisolasi Akibat Jembatan Ambrol Diterjang Banjir

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, Sudah dua pekan, Ngamuri (46 tahun), warga Kampung Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah, meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan. Selain karena cuaca yang tak mendukung untuk melaut, dia memiliki 'pekerjaan' baru, yakni sebagai penjaga rakit di Kali Bringin.

Rakit tersebut kini menjadi satu-satunya sarana yang menghubungkan warga Kampung Tambaksari dengan Mangkang Wetan. Pada 15 Januari 2026 lalu, jembatan yang menghubungkan kedua kampung tersebut, ambrol diterjang banjir. Tanpa adanya rakit, warga Kampung Tambaksari akan sepenuhnya tersiolasi. Karena untuk ke Kampung Mangkang Wetan, mereka harus menyeberangi sungai selebar sekitar 45 meter.

Siang itu, Kamis (29/1/2026), Ngamuri sibuk melayani mobilitas warga. Dari atas rakit seluas sekitar dua meter persegi yang terbuat dari jeriken dan beralaskan papan kayu, Ngamuri mengantar warga dari Tambaksari ke Mangkang Wetan maupun sebaliknya.

Agar tak terbawa arus, rakit memiliki semacam alat pengait yang dicantolkan pada rentangan tambang yang diikat di kedua tepi sungai. Kemudian terdapat tambang lain yang digunakan untuk menarik rakit dari satu sisi ke sisi lainnya. Berdasarkan pengamatan Republika, aliran Kali Bringin cukup tenang saat cuaca cerah.

"Sudah dua pekan seperti ini karena jembatan hanyut, ambrol, terkena banjir," ungkap Ngamuri ketika ditemui di lokasi.

Sehari-hari Ngamuri sebenarnya bekerja sebagai nelayan. "Tapi ini lagi libur karena cuaca sedang tidak bagus. Jadi bantu-bantu di sini, bergantian sama warga lain juga," katanya.

Menurut Ngamuri, jam sibuk pergerakan rakit adalah pagi hari sekitar pukul 06:30-09:00 WIB. Hal itu karena banyak pelajar dan warga yang hendak bekerja atau ke pasar. Kesibukan serupa berlangsung pada siang hari, yakni ketika jam pulang sekolah.

Rakit buatan swadaya warga dapat mengangkut maksimal tujuh orang dalam sekali penyeberangan. "Ini gratis, tidak dipungut bayaran. Kalau ada yang mau bayar, kasih seikhlasnya saja buat perawatan (rakit)," kata Ngamuri.

Pada rakit disediakan boks plastik untuk menampung uang yang dibayarkan seikhlasnya oleh warga. Ngamuri berharap akan ada jembatan baru yang segera dibangun agar aktivitas dan mobilitas warga normal kembali.

Berdasarkan pengamatan Republika, tak jauh dari tepi sungai di sisi Kampung Mangkang Wetan, terdapat sebuah lahan kosong cukup luas. Lahan tersebut digunakan warga Kampung Tambaksari untuk memarkirkan sepeda motornya. Setelah itu mereka menyeberang menggunakan rakit.

Sodiah (30 tahun), warga Kampung Tambaksari, mengaku kesusahan sejak jembatan yang menjadi akses kampungnya ambrol diterjang banjir. Saat ini warga di sana hanya bisa mengandalkan rakit.

"Susah banget mau ke sana sini, bingung. Apalagi kalau airnya pas pasang, tidak bisa dilewati sama sekali. Jadi aktivitas warga berhenti," ujar Sodiah.

Padahal, Sodiah mengatakan, setiap hari warga Kampung Tambaksari perlu menyeberangi Kali Bringin untuk beraktivitas. "Karena ini jalan utama kalau buat daerah sini," ucapnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research