REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Penasihat Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof Nila Moeloek, mengatakan perempuan, terutama ibu, seharusnya menjadi pusat partisipasi dalam pembangunan kesehatan. Hal ini karena lebih dari 70 persen keputusan kesehatan di dalam keluarga ditentukan oleh perempuan.
Namun, Prof Nila menilai hingga saat ini pusat partisipasi kesehatan masih belum berorientasi pada perempuan. Padahal, peran perempuan sangat menentukan dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan keluarga.
"Sudah banyak kajian yang menyatakan lebih dari 70 persen keputusan kesehatan keluarga itu perempuan, terutama ibu. Tapi sayangnya pusat partisipasi kesehatan masih belum berorientasi perempuan," kata Prof Nila dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jumat (2/1/2026).
Menurut Prof Nila, partisipasi kesehatan perempuan harus dimulai dari hilir, termasuk melalui keterlibatan mereka dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa. Namun, ia menilai hingga kini perempuan masih belum dilibatkan secara optimal dalam proses tersebut.
"Musrenbang itu sebenarnya rakyat harus didengar. Perempuan seharusnya dilibatkan, tapi saya rasa perempuan masih belum dilibatkan," kata dia.
Dia mengungkapkan, rendahnya partisipasi kesehatan perempuan dapat berdampak pada tingginya angka kematian ibu (AKI). Kondisi tersebut mengurangi akses dan pemanfaatan layanan kesehatan penting, seperti pemeriksaan kehamilan sejak dini, konseling kesehatan, deteksi komplikasi kehamilan, serta persalinan yang aman.
Selain itu, Prof Nila juga menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan termasuk dalam mengambil keputusan terkait kesehatan reproduksi. Menurutnya, masih banyak keputusan kehamilan yang dikendalikan oleh suami, termasuk keinginan memiliki banyak anak.
"Persoalan kehamilan itu semestinya perempuan yang memutuskan, termasuk jarak kelahiran, Kalau jarak kelahiran terlalu dekat, itu berisiko dan perkembangan anak menjadi tidak optimal," kata dia.
Untuk memperkuat partisipasi kesehatan perempuan, Prof Nila mendorong sejumlah langkah strategis, antara lain pendekatan partisipatif yang terstruktur, partisipasi kualitatif yang mendalam, dan praktik partisipatif berbasis bukti. Lalu pemanfaatan media sosial dan digitalisasi, pendekatan berbasis desa, serta fokus pada keluarga dan rumah tangga.

2 hours ago
1













































