Iran Diserang, Begini Sejarah Panjang Perlawanannya Terhadap AS dan Israel

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, Amerika Serikat akhirnya terang-terangan bergabung dengan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026). Langkah ini menambah panjang daftar konfrontasi dua negara yang sejak awal dipenuhi kecurigaan, rivalitas, dan luka sejarah. 

Jika ditarik ke belakang, relasi Washington–Teheran bukan sekadar soal nuklir atau keamanan kawasan, melainkan berakar dari perebutan pengaruh dan sumber daya, terutama minyak.

Titik balik pertama terjadi pada 1953. Perdana Menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mossadegh, berupaya menasionalisasi industri minyak yang saat itu dikuasai perusahaan Inggris. Kebijakan itu memicu operasi rahasia CIA bersama intelijen Inggris untuk menggulingkannya. Kudeta tersebut mengembalikan Mohammad Reza Pahlavi sebagai shah. Sejak saat itu, Iran menjadi sekutu utama AS di kawasan.

Ironisnya, pada 1957 Washington menandatangani kerja sama nuklir sipil dengan rezim Pahlevi. Fondasi inilah yang kelak berkembang menjadi program nuklir kontroversial Iran. Namun rezim Shah yang otoriter memicu gelombang protes besar. 

Revolusi 1979 melahirkan Republik Islam di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini. Krisis sandera Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari memutus total hubungan diplomatik kedua negara—dan tak pernah benar-benar pulih.

Ketegangan kian dalam saat AS mendukung Irak dalam Perang Iran-Irak (1980-1988). Pada 1984, Washington menetapkan Iran sebagai “negara sponsor terorisme”. Empat tahun kemudian, kapal perang AS menembak jatuh Iran Air Penerbangan 655, menewaskan 290 orang. Bagi Teheran, ini bukan kecelakaan, melainkan simbol permusuhan permanen.

Pasca-serangan 11 September 2001, sempat muncul kerja sama diam-diam melawan Taliban. Namun Presiden George W. Bush memasukkan Iran dalam “Poros Kejahatan”. Isu nuklir kembali mengemuka pada 2003 ketika IAEA menemukan jejak uranium yang diperkaya. Negosiasi panjang berujung pada kesepakatan bersejarah 2015 (JCPOA) di era Barack Obama. Iran membatasi program nuklirnya, imbalannya sanksi dicabut.

Kesepakatan itu runtuh ketika Donald Trump pada 2018 menarik AS keluar dan menerapkan kembali sanksi berat dalam kebijakan “tekanan maksimum”. Iran membalas dengan meningkatkan pengayaan uranium. Ketegangan memuncak pada Januari 2020 saat drone AS menewaskan Jenderal Qasem Soleimani di Baghdad. Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak.

Di era Joe Biden, upaya menghidupkan kembali JCPOA dilakukan melalui perundingan di Wina. Namun pembicaraan tersendat, terlebih setelah Iran meningkatkan pengayaan hingga 60 persen dan dinamika politik domestik di kedua negara berubah. Di tengah kebuntuan itu, Iran juga mempererat hubungan militer dengan Rusia dalam perang Ukraina.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research