
Oleh : Sabpri Piliang, Pengamat Timur Tengah
REPUBLIKA.CO.ID, Negosiasi rasional AS-Iran di Oman (pekan lalu), memunculkan matriks orientasi dan matriks emosional Israel (berbagai perasaan). Israel tidak puas! Posisi AS sesungguhnya mampu memaksa Iran masuk ke negosiasi emosional. Sesuatu yang langsung berujung konfrontasi militer. Israel menginginkan itu.
Bagi Netanyahu dan koalisi "sayap kanan"nya, negosiasi penuh "senyum" itu, telah memperkuat rezim Mullah. AS dianggap membuang momentum pukulan signifikan, terhadap infrastruktur dan suprastruktur Iran.
Apa yang dilakukan AS (baca: Trump) di Muscat (Oman), dalam asumsi Israel. Bukanlah karakter Trump sesungguhnya. Memancing lawan dalam posisi emosional, akan memunculkan keputusan Iran yang salah dan tergesa-gesa.
Mestinya, dengan "pressure" (asumsi Israel), pengepungan armada laut (USS Abraham Lincoln) dan pesawat F-35 AS, Iran akan setuju menghapus rudal hipersonik-nya. Sesuatu yang sangat ditakuti Israel.
Bagi Iran, memenuhi komprehensif keinginan Israel (lewat AS), merupakan kesalahan fatal dan buruk untuk rezim. Menunda program pengayaan Uranium menjadi 60 persen, sepertinya mampu dipenuhi dan lebih realistis.
Sementara, "membuang" program rudal, ditambah perlucutan Houthi Yaman dan Hezbollah Lebanon, tidak akan pernah disetujui Iran. Bertempur habis-habisan adalah pilihan.
Trump terlihat memiliki pertimbangan inklusif. Dampak ekonomi dan kepentingan sekutu AS lainnya, menjadi kalkulasi tersendiri. Sebaliknya Israel hanya menimbang kepentingan eksklusif-nya, ancaman rudal.
Negosiasi Muscat (Ibukota Oman). Merupakan perubahan ekstrem sikap Trump, setelah beberapa pekan mengarahkan moncong senjata ke Iran. Pesimistis publik, perang tak akan terjadi, berubah optimistis.
Trump menyadari, Iran merupakan lawan yang sulit. Negosiasi emosional bila dipaksakan pun dapat mengarah ke cara "barbar" dan manipulatif. Sementara negosiatornya menjelma sebagai manipulator.
Sudah tepat, langkah Trump, mengirimkan negosiator tingkat tinggi (Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner) ke Oman. Negosiasi emosional, pun berubah kembali ke negosiasi rasional.
Ada yang dikhawatirkan Israel dari negosiasi rasional AS-Iran. Trump akan mengikuti jejak Presiden AS Joe Biden, setelah sebulan dilantik (2019). Joe Biden memutuskan mencabut sanksi ekonomi Iran.
Iran yang kala itu diambang kebangkrutan ekonomi, melenggang cepat ke pemulihan. Iran mendapat cek kosong yang boleh diisi sendiri, tanpa prasyarat pembahasan perjanjian nuklir.
Sayangnya, sanksi ekonomi Iran diperbarui lagi (2020). Pendapatan per kapita Iran turun 14 persen, inflasi melonjak dari 9,6 persen ke angka (40 persen), kerugian ekonomi USD 250 milyar, dan anggaran pertahanan dipangkas 28 persen.
Israel mengkhawatirkan, negosiasi AS-Iran yang akan dilanjutkan seminggu atau dua minggu lagi. Akan berujung pencabutan sanksi ekonomi. Notabene, memulihkan kembali Iran di regional-nya.
Empiris, sikap lunak Joe Biden (Yedioth Ahronoth, 8 Pebruari 2026), menghasilkan penguatan proxy Iran: Houthi, Hezbollah, dan Hamas. Muncul asumsi, serangan 7 Oktober Hamas ke Israel, sebagai akibat pencabutan sanksi Biden.
Negosiasi AS-Iran, memiliki dinamika tersendiri dan unik. Menyamakan Khamenei dengan penangkapan Noriega (Panama), atau Maduro (Venezuela). Merupakan "gagasan ekstrem" yang bisa memunculkan kekacauan regional.
Apa yang dilakukan Trump sudah tepat. Ilusi pemerintahan Sayap Kanan Israel justru sebaliknya. Alih-alih runtuhnya rezim Mullah, yang datang malah penguatan.
Imajinasi populer dan paranoid Israel, Trump akan bersikap sama dengan Joe Biden. Negosiasi ini membuang kesempatan terbaik mengganti rezim Mullah yang tengah terjepit.
Merugikan Israel
Israel, memang tidak berkenan dengan kesepakatan Muscat (Oman). Di kalangan militer dan sayap kanan menilai, negosiasi AS-Iran, berpotensi mengancam keamanan Israel.
Menghentikan program nuklir sekaligus melepaskan persenjataan rudal Iran, merupakan dua hal utama bagi Israel. Keduanya hanya akan didapat AS secara minimalis, bila dari meja negosiasi.
Bagi Israel, ada dua pilihan kalau negosiasi AS-Iran hanya berkutat pada pembatasan program nuklir, tanpa membahas rudal. Katakanlah Iran setuju menghentikannya.
Israel mesti mengikuti dan patuh dengan perjanjian "zona aman", di mana Israel dicegah (oleh AS) melakukan serangan ke Iran. Pilihan kedua, Israel dimungkinkan boleh menyerang Iran demi menghilangkan ancaman dan keamanan Israel. Yang disebut dengan kesepakatan terbuka (Jerusalem Post, 8 Pebruari 2025).
Negosiasi adalah satu inovasi. Timur Tengah yang 'berisik" (oleh Israel), selalu mengundang perdebatan, apakah ada demokrasi di regional ini?
Negosiasi nuklir AS-Iran, akan terus bergulir mencari titik 'Kongruen', dengan sisi dan sudut sama besar. Artinya, AS-Iran-Israel, mesti berjalan dalam alur harmonis, selaras, setara, dan konsisten. Rasanya, ambivalens!
Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benyamin Netanyahu, Rabu (11/2/2026) bertemu di Washington. Momentum konsultasi ini mengatakan. Lanjut berunding, atau langsung perang?! Jawabannya adalah serangan Amerika Israel ke Iran hari ini.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
2













































