Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi Melambat, Rupiah Melemah ke Rp 18.111 per Dolar AS

11 hours ago 3

Karyawan menghitung uang rupiah di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan tren pelemahan di atas level Rp 18.000 per dolar AS. Tertekannya mata uang Garuda terjadi seiring proyeksi melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 38 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp 18.111 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026). Rupiah diketahui kembali menembus level Rp 18.000-an setelah pengumuman pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada awal pekan ini.

"Para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 akan berada pada kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen. Proyeksi itu jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (30/7/2026).

Proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut dipicu tekanan akibat tingginya biaya produksi karena gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.

"Sementara itu, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diprediksi berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen. Proyeksi tersebut juga berada di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5 persen pada periode 2027 hingga 2029," lanjutnya.

Ibrahim menuturkan pasar juga mencermati ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, serta hambatan ekspor mineral.

"Selain itu, pelaku pasar juga bersiap menyambut rilis sejumlah data domestik penting pada pekan depan, termasuk inflasi Juli, data perdagangan Mei, cadangan devisa, produk domestik bruto (PDB) kuartal II, serta Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK)," terangnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research