Peringatan Keras: Harga Emas Ambruk 4% dalam Sehari, Masih Bisa Naik?

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas bergerak melemah tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan memudarnya prospek pemangkasan suku bunga. Prospek memudar seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi di tengah ketakutan akan konflik Timur Tengah yang berpotensi berkepanjangan.

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di US$ 5086,47 per troy ons atau ambruk 4,5% pada perdagangan Selasa (3/3/2026).

Pelemahan ini memutus reli lima hari beruntun dengan penguatan 3,5%.

Pelemahan ini juga membawa harga emas ke titik terendah sejak 19 Februari 2026 atau delapan hari beruntun.

Pada hari ini, Rabu (4/3/2026) pukul 06.30 WIB, harga emas sudah membaik dengan menguat 0,7% ke US$ 5121,67 per troy ons.

"Penurunan emas tampaknya didorong oleh pelarian menuju likuiditas yakni pelarian ke uang tunai. Dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi bergerak lebih tinggi," ujar Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures, kepada Reuters.

Dolar AS melesat karena investor mencari perlindungan di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran inflasi, mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi, dan membuat pasar meninjau ulang arah kebijakan Federal Reserve.

Indeks dolar melonjak ke 99,07 pada perdagangan Selasa (3/3/2026). Level ini adalah yang tertinggi sejak 24 Januari 2025.

Pembelian emas dikonversi dalam emas sehingga lonjakan dolar AS membuat investor lebih mahal untuk membeli emas sehingga permintaan turun.

"Namun, penurunan harga ini kemungkinan hanya bersifat sementara, dan arus dana ke aset aman akibat risiko geopolitik seharusnya mendukung harga emas dan perak yang lebih tinggi," tambah Haberkorn.

Di sisi geopolitik, konflik Iran memasuki hari keempat ketika ledakan mengguncang Teheran dan Beirut. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada Senin mengatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Sebagai respons, harga minyak acuan melonjak lebih dari 5% pada Selasa.

Kerusakan pada infrastruktur energi dan terhentinya lalu lintas kapal tanker melalui Hormuz meningkatkan risiko penguatan harga minyak, gas, dan produk olahan secara berkelanjutan.

Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com mengatakan kerusakan tersebut memicu kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Kondisi ini membuat emas kehilangan sebagian dukungannya.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed berikutnya telah bergeser dari Juli ke September, meski pasar masih memperhitungkan dua kali penurunan masing-masing sebesar 25 basis poin.

Meski dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak, emas biasanya lebih diminati dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil bunga.

Sepanjang tahun ini, emas spot telah naik 19%, didukung oleh gejolak global, setelah melonjak 64% pada 2025. Sementara itu, perak telah menguat lebih dari 16% tahun ini.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research