Perang Narasi: AS-Iran Berlomba Klaim Menang, Realitasnya Menyakitkan

5 hours ago 1

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

07 April 2026 14:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin terjebak dalam perang narasi, masing-masing mengklaim kemenangannya sambil menutupi skala kerusakan yang terus membesar.

Presiden AS Donald Trump kembali mengulangi ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, dengan mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran "Open the Fuckin' Strait, you crazy bastards, or you'll be living in Hell".

Tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz yang sebelumnya telah dua kali ditunda. Namun, tanpa penjelasan, Trump kembali menundanya selama 24 jam hingga Selasa malam.

Pada Minggu malam, pemerintah menyampaikan kepada seorang jurnalis bahwa mereka tengah melakukan upaya terakhir untuk mencapai gencatan senjata selama dua hingga tiga minggu. Amerika Serikat menginginkan Iran membuka kembali Selat Hormuz selama periode tersebut, dan jeda itu akan dimanfaatkan untuk membahas kesepakatan damai yang bersifat permanen.

Namun, Iran menginginkan penghentian konflik secara permanen dengan Amerika Serikat dan memegang kendali atas Selat Hormuz. Iran tidak dengan mudah membuka kembali Selat Hormuz, hanya demi gencatan senjata sementara.

Perang Narasi di Tengah Kerusakan Nyata

Setelah lebih dari 15.000 serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Iran serta lebih dari 5.000 serangan rudal dan drone Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk, tingkat kerusakan di seluruh kawasan sangat besar.

Namun demikian, masing-masing pihak tetap bersikeras bahwa mereka tangguh dan berada di posisi unggul perang narasi telah menutupi realitas keadaan yang sebenarnya.

Pertarungan narasi terlihat jelas pada akhir pekan kemarin, ketika Amerika Serikat melaksanakan operasi penyelamatan terhadap dua awak jet tempur F-15 yang ditembak jatuh di Iran. Secara objektif, operasi tersebut dapat dinilai sebagai keberhasilan.

Amerika Serikat berhasil menyusun misi penyelamatan jauh di wilayah musuh dan mengevakuasi personilnya tanpa kehilangan prajurit. Hal ini menjadi pukulan bagi Iran, yang sebelumnya telah mengerahkan pasukan paramiliter untuk memburu mereka, bahkan menawarkan imbalan kepada warga sipil yang berhasil menemukan awak tersebut.

Namun, Iran berupaya menggambarkan operasi tersebut sebagai kegagalan Amerika, dengan menyoroti hilangnya sejumlah pesawat. Dua diantaranya ditembak jatuh, sementara yang lain terjebak di pasir dan harus dihancurkan oleh pasukan komando Amerika agar tidak jatuh ke tangan Iran. Mohammad Bagher Qalibaf, ketua parlemen Iran, mengunggah foto salah satu pesawat yang hangus di media sosial. "Jika Amerika Serikat memperoleh tiga kemenangan lagi seperti ini, mereka akan hancur total" ujarnya.

Biaya Militer dan Tekanan Strategis

Kerugian yang dialami Amerika Serikat tidak dapat dikatakan kecil. Negara tersebut kehilangan satu pesawat A-10, dua pesawat kargo C-130, empat helikopter MH-6, serta jet F-15, dengan total nilai sekitar 300 juta dolar AS. Namun, angka tersebut hanya sekitar 0,03% dari total anggaran pertahanan tahunan Amerika Serikat. Dengan demikian, Pentagon masih memiliki kapasitas untuk menanggung kerugian dalam skala tersebut.

Meski demikian, biaya perang secara keseluruhan terus meningkat. Konflik ini telah menguras persediaan Amerika Serikat, mulai dari sistem pertahanan udara hingga amunisi canggih jarak jauh.

Pentagon juga kehilangan beberapa pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara serta pesawat radar E-3 AWACS, yang jumlahnya kurang dari 20 unit. Kerusakan serius juga terjadi pada pangkalan militer yang digunakan pasukan Amerika, seperti al-Udeid di Qatar dan Prince Sultan di Arab Saudi.

Dampak Ekonomi Kawasan

Dampak ekonomi dari konflik ini tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik, tetapi juga meluas ke berbagai sektor strategis di kawasan. Negara-negara Teluk dan Iran sama-sama mengalami tekanan ekonomi dengan intensitas yang berbeda.

Resiko Eskalasi dan Dampak Jangka Panjang

Pertanyaan utama perang ini yaitu, seberapa jauh situasi akan terus memburuk, jika Donald Trump benar-benar merealisasikan ancamannya untuk melancarkan serangan luas terhadap pembangkit listrik yang berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran hukum perang, karena kerusakannya akan sangat besar.

Iran telah memperingatkan bahwa langkah tersebut akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur vital di negara-negara Teluk. Dalam skenario terburuk, fasilitas desalinasi air yang menjadi penopang utama kehidupan di kawasan tersebut dapat menjadi target, sehingga berisiko membuat kota-kota besar tidak lagi layak huni.

(mae/mae)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research