Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
10 March 2026 11:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan senjata global melonjak di tengah dunia yang terus dibayangi perang. Kenaikan ini terjadi saat perang Rusia-Ukraina yang pecah sejak 2022 belum juga berakhir, sementara ketegangan di Timur Tengah kembali memanas seiring pecahnya perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Situasi tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan banyak negara terhadap sistem persenjataan, dan dampaknya kini terlihat jelas pada perdagangan senjata dunia.
Menurut laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), volume transfer senjata dunia pada periode 2021-2025 naik 9,2% dibandingkan 2016-2020. SIPRI menyebut kenaikan ini sebagai yang terbesar sejak 2011-2015, atau tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Amerika Serikat Masih Menjadi Eksportir Senjata Terbesar di Dunia
Di tengah lonjakan perdagangan senjata global, Amerika Serikat masih menjadi eksportir senjata terbesar di dunia. Pada periode 2021-2025, pangsa ekspor senjata AS mencapai 42% dari total ekspor global.
Angka ini naik dari 36% pada periode 2016-2020. SIPRI juga mencatat ekspor senjata AS meningkat 27% dibandingkan periode sebelumnya, menegaskan bahwa posisi Washington masih sangat dominan dalam pasar senjata dunia.
Bahkan, dominasi AS terlihat makin kuat karena pangsanya lebih besar daripada gabungan pangsa beberapa eksportir besar lain.
Dalam periode 2021-2025, AS mengekspor senjata ke 99 negara, dengan Eropa menjadi tujuan terbesar untuk pertama kalinya dalam dua dekade.
Jika dilihat dari peringkatnya, eksportir senjata terbesar dunia pada 2021-2025 selain AS ada Prancis dengan pangsa pasar dunia sebeesar 9,8%, kemudian ada Rusia 6,8%, Jerman 5,7%, dan China 5,6%.
Setelah itu disusul Italia 5,1% dan Israel 4,4%. Data ini menunjukkan bahwa AS masih berada jauh di atas negara lain dalam hal ekspor senjata global.
Dari situ, cerita yang paling menarik bukan hanya dominasi AS, tetapi juga perubahan di bawahnya.
Prancis tetap kuat di posisi kedua, sementara Rusia justru mengalami tekanan sangat besar. Pangsa ekspor Rusia turun tajam dari 21% pada 2016-2020 menjadi hanya 6,8% pada 2021-2025. Di sisi lain, Jerman dan China relatif berada di posisi menengah, tetapi masih jauh tertinggal dibandingkan AS.
Importir Terbesar Dunia Bergeser dari Timur Tengah ke Eropa
Perubahan besar lainnya terlihat dari sisi pembeli atua importir senjata. Jika sebelumnya Timur Tengah menjadi pusat dalam melakukan impor senjata dunia, kini posisi itu bergeser ke Eropa.
SIPRI mencatat pada 2021-2025, Eropa menjadi kawasan dengan pangsa impor senjata terbesar di dunia, yakni 33% dari total global. Ini menjadi pertama kalinya sejak 1960-an Eropa berada di posisi tersebut. Sebagai perbandingan, kawasan Asia dan Oseania berada di posisi kedua dengan 31%, sementara Timur Tengah turun ke 26%.
Pergeseran ini terjadi karena impor senjata negara-negara Eropa melonjak sangat tajam, yakni 210% dibandingkan periode 2016-2020.
Di sisi lain, impor senjata di Timur Tengah justru turun 13% dalam periode yang sama. Jadi, pusat permintaan senjata dunia kini memang bergeser, dari kawasan yang selama ini identik dengan konflik seperti Timur Tengah, ke Eropa yang tengah memperbesar belanja pertahanannya akibat perang Ukraina dan meningkatnya ancaman dari Rusia.
Kalau dilihat dari negara, importir senjata terbesar dunia pada 2021-2025 adalah Ukraina, India, Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan. Kelima negara ini secara bersama-sama menyerap 35% dari total impor senjata global.
Ukraina berada di posisi pertama dengan pangsa 9,7%, disusul India 8,2%, Arab Saudi 6,8%, Qatar 6,4%, dan Pakistan 4,2%.
Yang paling mencolok tentu Ukraina. Negara ini menjadi importir senjata terbesar dunia pada 2021-2025, padahal pada 2016-2020 porsinya hanya 0,1% dari total impor global.
Lonjakan ini membuat Ukraina menjadi sinyal nyata dari perubahan arah pasar senjata dunia saat ini.
Selain Ukraina, kenaikan besar juga terlihat di Qatar dan Pakistan, tetapi lonjakan Ukraina tetap menjadi yang paling menonjol karena langsung mendorong Eropa ke posisi puncak sebagai kawasan pengimpor terbesar dunia.
Dengan kata lain, laporan SIPRI terbaru menunjukkan dua perubahan besar sekaligus. Dari sisi penjual, Amerika Serikat masih menjadi pemain paling dominan di pasar senjata global.
Sementara dari sisi pembeli, pusat impor kini telah bergeser ke Eropa, didorong oleh perang Ukraina dan meningkatnya kekhawatiran keamanan di kawasan tersebut. Di tengah dunia yang makin dipenuhi konflik, peta perdagangan senjata global pun ikut berubah.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google














































