Perang Berbalik Gerogoti Putin, Eks Penasihat Bank Sentral Rusia dan Profesor Oxford Angkat Bicara

4 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang yang dilancarkan Rusia ke Ukraina justru dinilai mulai berbalik menggerogoti fondasi kekuasaan Presiden Vladimir Putin. Membengkaknya biaya perang, tekanan terhadap ekonomi, hingga meningkatnya ketidakpuasan publik disebut menjadi sinyal awal melemahnya daya tahan rezim Kremlin.

Peringatan tersebut disampaikan mantan penasihat Bank Sentral Rusia Alexandra Prokopenko serta profesor sejarah global Universitas Oxford Peter Frankopan. Keduanya menilai tekanan yang terus menumpuk akibat perang berpotensi memicu keretakan di dalam lingkaran elite Rusia, meski Putin hingga kini masih memegang kendali politik.

Dalam opininya di Financial Times, Prokopenko mengatakan perang memaksa Kremlin meninggalkan disiplin fiskal yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi Rusia. Menurut peneliti Carnegie Russia Eurasia Center itu, pemerintah kini mulai mengubah berbagai aturan anggaran demi memastikan pembiayaan perang tetap berjalan.

Salah satu langkah yang dinilai paling mencolok ialah keputusan parlemen Rusia yang memberikan kewenangan lebih besar kepada Kementerian Keuangan untuk meningkatkan belanja negara dan menambah utang tanpa harus menunggu pengesahan anggaran baru secara formal.

Tekanan fiskal itu semakin nyata. Hingga Mei, defisit anggaran Rusia telah mencapai sekitar 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 83 miliar dolar AS, dua kali lebih besar dibandingkan defisit sepanjang tahun 2025. Sementara itu, Dana Kekayaan Nasional Rusia yang selama ini menjadi bantalan fiskal terus menyusut akibat digunakan untuk menutup kekurangan anggaran.

"Otokrasi yang terpojok sedang menulis ulang aturan fiskal sambil mengabaikan parlemen dan menolak mengakui bahaya yang semakin sulit dikendalikan. Ini mungkin tidak sedramatis kudeta, tetapi beginilah kemunduran sebuah rezim dimulai," tulis Prokopenko.

Di saat yang sama, tekanan perang juga semakin besar. Serangan pesawat nirawak Ukraina dilaporkan semakin sering menjangkau wilayah Rusia, termasuk kilang minyak dan fasilitas industri pertahanan di sekitar Moskow maupun St. Petersburg. Korban di pihak militer Rusia terus bertambah, sementara biaya kompensasi bagi keluarga prajurit ikut membengkak.

Kondisi ekonomi dalam negeri juga mulai tertekan. Kelangkaan bahan bakar memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, sementara inflasi dan tingginya suku bunga semakin membebani masyarakat Rusia.

Menurut Prokopenko, Kremlin kini tidak lagi mampu menjalankan tiga target sekaligus, yakni membiayai perang, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

"Perang kini semakin dibiayai dengan membebankan beban kepada masyarakat dan menangguhkan aturan negara sendiri. Jika terus berlanjut, Rusia akan menghadapi ekonomi yang lebih miskin, masyarakat yang lebih marah, sistem keuangan yang semakin rapuh, serta pendanaan perang yang tidak lagi dapat diandalkan," tulisnya.

Tekanan juga mulai muncul dari kalangan yang selama ini dikenal mendukung operasi militer Rusia. Seorang blogger militer sekaligus veteran perang Ukraina, Aleksandr Lunin, sempat mengunggah video yang viral setelah menuding adanya penyiksaan terhadap prajurit oleh komandan mereka sendiri.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research