REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penurunan drastis aktivitas manusia selama masa pandemi Covid-19 meningkatkan kadar metana di atmosfer. Temuan ini menambah kompleksitas tantangan pengendalian pemanasan global karena metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida, meski keberadaannya di atmosfer relatif lebih singkat.
Metana rata-rata bertahan sekitar satu dekade di atmosfer, tetapi kemampuannya memerangkap panas jauh melampaui karbon dioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat sejak 1980-an, sebagian besar akibat kebocoran gas dan pembakaran tidak sempurna dalam produksi bahan bakar fosil.
Emisi biologis dari mikroba yang menguraikan bahan organik di lahan basah, pertanian, dan tempat pembuangan akhir sampah terus meningkatkan konsentrasi metana di atmosfer dalam dua dekade terakhir. Pada periode 2020 hingga 2022, laju pertumbuhan metana di atmosfer melonjak secara tak terduga dari sekitar 20 juta ton per tahun menjadi hampir 40 juta ton per tahun.
Angka tersebut kemudian turun kembali mendekati 20 juta ton pada 2023. Riset terbaru menunjukkan lonjakan ini tidak semata-mata disebabkan meningkatnya emisi metana, melainkan melemahnya mekanisme alami atmosfer yang biasanya membantu menguraikan gas tersebut.
Selama pandemi Covid-19, aktivitas transportasi darat, penerbangan, dan pelayaran global turun tajam. Penurunan ini turut memangkas emisi nitrogen oksida (NOx), senyawa yang selama ini dikenal sebagai polutan udara berbahaya.
Namun, NOx juga berperan penting dalam reaksi kimia atmosfer yang menghasilkan radikal hidroksil (OH), yakni “pembersih” utama udara yang memecah metana menjadi senyawa lain yang kurang berbahaya bagi iklim. Dengan kata lain, ketika emisi NOx turun, produksi radikal hidroksil ikut menurun. Akibatnya, metana yang dilepaskan ke atmosfer bertahan lebih lama dan terakumulasi lebih cepat.
“Ini seperti pengaruh dari kecanduan kita pada bahan bakar fosil,” kata Matthew Johnson dari University of Copenhagen, Denmark, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, seperti dikutip dari New Scientist, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, selama ini manusia mengeluarkan polusi metana sekaligus “katalis” yang membantu membersihkannya. Ketika katalis itu berkurang, polusi mengambil alih.
Penelitian sebelumnya yang dipimpin Shushi Peng dari Peking University, China, sempat menyimpulkan lonjakan metana pada 2020 disebabkan kombinasi berkurangnya radikal hidroksil dan meningkatnya emisi dari lahan basah. Namun, para peneliti terkejut ketika laju pertumbuhan metana tetap tinggi pada 2021 dan 2022, meski perekonomian global mulai pulih.
Studi lanjutan oleh tim yang sama mencoba menjelaskan anomali tersebut. Radikal hidroksil sangat sulit diukur secara langsung karena sifatnya yang sangat singkat.
Para ilmuwan harus mengandalkan pengamatan satelit terhadap gas-gas pendahulu yang membentuknya, serta perkiraan emisi metana alami dan buatan manusia. Dengan memodelkan sumber emisi daratan dan “penyerap” metana di atmosfer, peneliti menyesuaikan hasil simulasi hingga cocok dengan pengukuran konsentrasi metana global.
Hasilnya menunjukkan penurunan radikal hidroksil pada 2020–2021 dan pemulihannya pada 2022–2023 menjelaskan sekitar 83 persen variasi laju pertumbuhan metana. Peng mengatakan emisi penerbangan tetap rendah pada 2021, sementara transportasi darat dan pelayaran membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke tingkat prapandemi.
Sisa lonjakan berasal dari peningkatan emisi metana alami. Fenomena iklim La Niña membawa curah hujan lebih tinggi ke Afrika Tengah pada 2020–2022, memperluas lahan basah Sudd dan Cuvette Centrale yang dikenal sebagai penghasil metana besar.
Kondisi lebih basah juga meningkatkan emisi dari sawah di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Selain itu, pemanasan global mendorong peningkatan emisi metana dari lahan basah di wilayah Arktik. Ke depan, Peng memperingatkan penurunan polusi NOx akibat elektrifikasi ekonomi di negara-negara besar seperti China dan India berpotensi kembali mempercepat pertumbuhan metana.
“Udara akan semakin bersih, tetapi itu berarti kemampuan atmosfer untuk menguraikan metana juga semakin kecil,” ujarnya.
Karena itu, pengurangan emisi metana yang berasal dari aktivitas manusia harus dilakukan lebih agresif. Namun, tidak semua ilmuwan sepakat dengan besarnya peran radikal hidroksil.
Beberapa model iklim memproyeksikan konsentrasi OH akan menurun, sementara yang lain justru memperkirakan peningkatan. Ketidakpastian dalam mengestimasi OH ini membuat hasil studi tersebut masih diperdebatkan.
Paul Palmer dari University of Edinburgh, Inggris, mengatakan ia akan terkejut jika perubahan OH lebih dominan daripada perubahan emisi. Jika benar, menurutnya, perlu peninjauan ulang faktor-faktor yang mengendalikan OH di troposfer global. Ia juga memperingatkan bahwa perkiraan OH yang terlalu tinggi dapat menutupi besarnya perubahan emisi metana yang sebenarnya.
Terlepas dari perdebatan tersebut, para ilmuwan sepakat emisi metana dari lahan basah kemungkinan akan terus meningkat seiring pemanasan global yang memicu curah hujan lebih tinggi dan aktivitas mikroba yang lebih intens. Artinya, upaya manusia untuk menekan emisi metana dari sektor energi, limbah, dan pertanian menjadi semakin mendesak.
Dalam komentar yang terbit bersamaan dengan studi ini, Euan Nisbet dari Royal Holloway, University of London, dan Martin Manning dari Victoria University of Wellington menilai China dan India memiliki banyak “kemenangan mudah” dengan menangkap metana yang bocor dari tambang batu bara, tempat pembuangan sampah, dan instalasi pengolahan limbah.
Di sisi lain, kebocoran metana dalam produksi minyak dan gas masih terjadi dalam skala besar di berbagai belahan dunia. “Kita harus bertindak, karena sistem ini mulai lepas kendali,” kata Johnson.
Ia menilai lonjakan metana saat ini baru merupakan tanda awal dari umpan balik iklim yang lebih besar, ketika pemanasan global justru memicu pelepasan metana lebih lanjut dan mempercepat krisis iklim yang sudah di depan mata.

3 hours ago
3













































