REPUBLIKA.CO.ID, CIKARANG – Pertumbuhan kawasan industri mendorong pergeseran strategi investasi properti. Investor kini tidak lagi hanya memburu hunian, tetapi mulai fokus pada aset komersial yang mampu menghasilkan arus kas berkelanjutan.
Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menjadi salah satu motor utama tren tersebut. Hingga kuartal III 2025, realisasi investasi di wilayah ini mencapai sekitar Rp61,8 triliun, tertinggi di Jawa Barat. Konsentrasi kawasan industri, stabilitas permintaan tenaga kerja produktif, serta peningkatan konektivitas menjadikan Cikarang dan sekitarnya semakin menarik bagi investor properti berbasis pendapatan.
Perkembangan kawasan hunian terpadu di sekitar pusat industri turut membentuk ekosistem baru. Fungsi residensial, pendidikan, dan komersial terintegrasi dalam satu kawasan, sehingga menciptakan kebutuhan ruang usaha yang konsisten. Kondisi ini memperkuat daya tarik aset komersial seperti ruko dan ruang usaha sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang.
Presiden Direktur PT Panahome Deltamas Indonesia Taishi Inagaki mengatakan, permintaan pasar mulai bergeser dari hunian murni ke aset yang memiliki potensi pendapatan rutin. Taishi Inagaki mengatakan, tren tersebut mencerminkan perubahan perilaku investor yang kini lebih mempertimbangkan keberlanjutan arus kas dibanding sekadar kenaikan nilai aset.
“Permintaan tidak lagi hanya pada rumah tinggal, tetapi juga pada aset komersial yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan,” kata Taishi Inagaki dalam siaran pers, Jumat (6/2/2026).
Sejalan dengan tren tersebut, Panahome sebagai pengembang kawasan Savasa di CBD Deltamas, menguatkan fungsi komersial melalui proyek CO Square, yang diharapkan menjadi pusat aktivitas usaha di kawasan tersebut. Properti ini menyasar segmen makanan dan minuman, ritel gaya hidup, hingga jasa berbasis pengalaman, yang dinilai memiliki daya serap tinggi di lingkungan kawasan industri dan hunian terpadu.
Untuk mendukung pemasaran kawasan sekaligus memperkuat akses informasi bagi calon investor, pengembang juga meresmikan marketing gallery Savasa pada awal 2026. Melalui fasilitas ini, konsumen dan investor dapat melihat langsung rencana pengembangan kawasan, portofolio produk, serta potensi investasi yang ditawarkan.
Dari perspektif investasi, aset komersial dinilai menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari potensi arus kas yang lebih cepat, fleksibilitas tenant lintas sektor usaha, hingga daya tahan yang relatif lebih baik terhadap fluktuasi siklus pasar. Sektor seperti makanan dan minuman, ritel gaya hidup, serta jasa berbasis pengalaman menjadi penggerak utama permintaan ruang usaha di kawasan industri.
Aksesibilitas juga menjadi faktor penentu. Kawasan ini didukung sejumlah gerbang tol utama serta kedekatan dengan Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang memperkuat konektivitas regional sekaligus memperluas basis konsumen. Infrastruktur tersebut memperbesar peluang pertumbuhan aktivitas ekonomi lokal, sekaligus meningkatkan daya tarik aset properti produktif.
Di sisi hunian, tren permintaan juga tetap terjaga. Data internal pengembang menunjukkan nilai sewa rumah di kawasan ini dapat mencapai hingga Rp250 juta per tahun, mencerminkan kuatnya pasar sewa yang ditopang oleh populasi pekerja industri dan profesional.
Kombinasi kawasan industri yang terus berkembang, infrastruktur transportasi yang semakin lengkap, serta terbentuknya pusat-pusat aktivitas baru menjadikan Cikarang sebagai salah satu episentrum investasi properti produktif. Dalam jangka panjang, model kawasan terpadu dinilai mampu menekan risiko investasi sekaligus menjaga daya saing aset.
Dengan dinamika tersebut, pasar properti di kawasan industri tidak lagi sekadar bertumpu pada penjualan unit hunian. Arah investasi bergerak menuju aset produktif yang mengandalkan pendapatan rutin, seiring meningkatnya kebutuhan ruang usaha dan aktivitas ekonomi di sekitar pusat-pusat manufaktur.

3 hours ago
3













































