
Oleh: Azhar; Pendiri Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf
REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia memikul tanggung jawab besar di mata dunia dalam menjaga dua spesies badak paling langka yang masih bertahan hingga hari ini, yaitu Badak Jawa dan Badak Sumatera (International Rhino Foundation, 2025). Di tengah laju kerusakan hutan, perubahan iklim, dan meningkatnya tekanan terhadap kawasan konservasi, keberadaan kedua spesies ini menjadi simbol penting tentang bagaimana manusia memperlakukan alamnya sendiri.
Badak bukan hanya satwa liar biasa, melainkan bagian dari sejarah panjang bumi yang berhasil bertahan selama jutaan tahun. Kini, keberlangsungan hidup mereka bergantung pada keputusan dan tindakan manusia di masa sekarang.
Badak Jawa saat ini hanya ditemukan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Banten (KLHK, 2025). Sementara itu, Badak Sumatera bertahan dalam populasi kecil yang tersebar di beberapa kawasan konservasi seperti Way Kambas dan Bukit Barisan Selatan. Jumlah populasi kedua spesies tersebut terus menjadi perhatian dunia internasional karena berada pada tingkat yang sangat kritis (IUCN Red List, 2025).
Dalam konteks konservasi global, Indonesia bukan hanya menjadi rumah terakhir bagi spesies ini, tetapi juga menjadi penentu apakah badak akan tetap hidup atau benar-benar punah dari muka bumi.
Tangkapan layar anak badak jawa terlihat dalam kamera trap milik Taman Nasional Ujung Kulon.
Secara ekologis, badak memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis (YABI, 2024). Badak dikenal sebagai salah satu satwa payung atau umbrella species. Artinya, ketika habitat badak terlindungi, maka ribuan spesies tumbuhan dan satwa lain di dalam kawasan tersebut juga ikut terlindungi.
Badak Sumatera bahkan memiliki fungsi penting dalam membantu regenerasi hutan melalui penyebaran biji-bijian dari berbagai jenis tumbuhan hutan (Save the Rhino International, 2024). Kehadiran mereka membantu menjaga siklus alami hutan agar tetap berjalan dengan baik.
Hutan tropis Indonesia sendiri memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat hidup satwa liar (WWF Indonesia, 2024). Hutan adalah penyimpan karbon alami yang sangat penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim global. Ketika kawasan hutan tetap terjaga, maka kemampuan bumi menyerap emisi karbon juga akan tetap berjalan. Karena itu, menjaga badak pada dasarnya juga berarti menjaga masa depan lingkungan hidup manusia.
Di tengah tantangan besar tersebut, Yayasan Badak Indonesia atau YABI hadir sebagai salah satu lembaga yang memiliki peran penting dalam perlindungan badak di Indonesia (YABI, 2025). Sejak berdiri pada tahun 2007, YABI berupaya memperkuat konservasi melalui pendekatan perlindungan habitat, penguatan masyarakat, pendidikan lingkungan, hingga program penangkaran semi alami. Kehadiran YABI menunjukkan bahwa konservasi tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap konservasi sebagai urusan para peneliti atau aktivis lingkungan saja (LIPI Conservation Study, 2023). Padahal kenyataannya, pelestarian badak membutuhkan kerja sama lintas bidang. Dunia pendidikan, teknologi, ekonomi, media, hingga sektor swasta memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan konservasi. Bahkan masyarakat umum pun sebenarnya dapat ikut berkontribusi melalui cara-cara sederhana seperti menjaga lingkungan, mendukung kampanye konservasi, dan tidak terlibat dalam perdagangan satwa liar.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
2
















































