REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL-Mantan Menteri Perdagangan periode 2011–2014, Gita Wirjawan, mendesak orientasi kepemimpinan nasional ditata ulang.
Bangsa ini, kata dia, harus berhenti mabuk pada elektabilitas dan popularitas, lalu bergeser pada ukuran yang lebih menentukan: integritas, kapabilitas, dan etikabilitas.
Desakan itu dia sampaikan dalam Public Lecture Series menyambut Dies Natalis ke-1 Universitas Harkat Negeri (UHN) di Kampus Tegal, Senin (22/6/2026), yang mengangkat tema "What It Takes: Asia Tenggara, dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global".
Rektor UHN Sudirman Said dalam sambutan pembuka menilai persoalan bangsa ini bukan terletak pada kelangkaan modal, melainkan pada minimnya keberanian berpikir besar dan kejujuran menilai kepemimpinan sendiri.
"Bangsa ini tidak kekurangan modal. Yang sering hilang justru keberanian berpikir jauh ke depan dan kejujuran menilai kualitas kepemimpinan kita sendiri," ujar Sudirman.
Dia mengajak audiens belajar dari Singapura yang melompat dari negara dunia ketiga ke dunia kesatu dalam waktu 40 tahun, sembari mengutip pesan yang berulang ia dengar dari Gita.
"Selalu ingat pesan dari Pak Gita Wirjawan mengenai betapa krusialnya melakukan investasi besar dalam dunia pendidikan. Sangat disayangkan jika potensi melimpah yang dimiliki Indonesia saat ini tidak memunculkan pikiran-pikiran besar yang dieksekusi nyata," kata Sudirman Said.
Naik ke panggung, Gita menegaskan Indonesia sebenarnya memegang modal yang lebih dari cukup untuk memimpin kawasan. Persoalannya, modal itu tidak akan berarti tanpa keberanian.
"Untuk jadi bangsa dan wilayah yang diperhitungkan di ASEAN, kita punya begitu banyak modalitas. Wilayah yang luas, penduduk dalam jumlah besar, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan kebinekaan," katanya.
"Yang diperlukan adalah keberanian menerobos batas, keberanian tampil sebagai bangsa beradab. Syaratnya, kita berani mengikuti jejak bangsa-bangsa yang kuat yang mengedepankan kekuatan moral, intelektual, etika, kapasitas kognisi, dan kemampuan membangun narasi," lanjutnya.
Dari modal yang melimpah itu, Gita menyoroti titik yang menurutnya justru kerap diabaikan: cara bangsa ini memilih pemimpin. Obsesi pada angka survei, katanya, telah menggeser ukuran kepemimpinan dari hal yang semestinya menentukan, hingga ia mendesak reorientasi menyeluruh.
"Kepemimpinan mendatang haruslah ditata ulang. Kita tidak boleh mabuk pada elektabilitas dan popularitas, tetapi harus bergeser orientasi untuk melihat integritas, kapabilitas, dan etikabilitas," tegasnya.
Dia menawarkan satu jalan keluar konkret dari apa yang ia sebut jebakan sensasionalitas, yakni membenahi pendidikan dimulai dari nasib guru.

3 hours ago
1
















































