Langit Teheran Menghitam, Serangan Kilang Minyak Memicu Awan Racun

7 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 March 2026 22:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan udara terhadap fasilitas energi Iran memicu krisis lingkungan di ibu kota negara itu. Ledakan di depo bahan bakar dan kilang minyak membuat awan asap hitam menyelimuti Teheran, membawa partikel kimia berbahaya ke udara kota berpenduduk hampir 10 juta jiwa tersebut.

Melansir dari laporan Reuters "Maps and Charts of the Iran Crisis", serangan udara pada 7-8 Maret 2026 menghantam sejumlah depo bahan bakar dan kilang minyak di sekitar Teheran serta provinsi Alborz. Fasilitas yang terkena serangan mencakup jaringan penyimpanan dan distribusi energi penting bagi ibu kota.

Serangan tersebut memicu kebakaran besar. Minyak mentah dan bahan bakar olahan terbakar di beberapa titik, menghasilkan asap hitam pekat yang menjulang tinggi ke atmosfer. Dalam laporan grafis tersebut dijelaskan bahwa pembakaran minyak melepaskan hidrokarbon beracun, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida ke lapisan udara rendah di atas kota.

Awan polusi ini kemudian menyebar di atas Teheran. Pada peta yang ditampilkan dalam laporan tersebut, asap dari kebakaran energi digambarkan membentuk "dense pollution cloud" yang menyelimuti sebagian besar wilayah metropolitan.

World Health Organization, U.S. Environmental Protection Agency, Iran Red Crescent and Environmental Protection Organization.Foto: Reuters- World Health Organization, U.S. Environmental Protection Agency, Iran Red Crescent and Environmental Protection Organization.
World Health Organization, U.S. Environmental Protection Agency, Iran Red Crescent and Environmental Protection Organization.

Reaksi dari pemerintah Iran datang segera setelah serangan terjadi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan serangan terhadap fasilitas bahan bakar tersebut membuka fase baru konflik yang berbahaya. Ia mengatakan bahwa pengeboman depo energi melepaskan bahan berbahaya ke udara dan mengancam keselamatan warga sipil.

Ketika awan polusi bercampur dengan kelembapan udara, terbentuk fenomena lain yang lebih berbahaya. Sulfur dioksida dan nitrogen dioksida bereaksi dengan uap air, menghasilkan hujan asam yang turun di beberapa bagian kota.

Dalam diagram yang ditampilkan pada laporan tersebut, hujan ini digambarkan membawa partikel kimia korosif yang jatuh kembali ke permukaan kota bersama air hujan.

Dampaknya terhadap kesehatan langsung menjadi perhatian otoritas kemanusiaan. Iranian Red Crescent Society memperingatkan bahwa hujan dengan kandungan kimia tersebut dapat menyebabkan luka bakar kimia pada kulit serta kerusakan serius pada paru-paru.

Partikel asam yang terhirup juga dapat mengiritasi saluran napas. Dalam kondisi tertentu, partikel halus dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah, meningkatkan tekanan pada sistem kardiovaskular.

World Health Organization, U.S. Environmental Protection Agency, Iran Red Crescent and Environmental Protection Organization.Foto: Reuters- World Health Organization, U.S. Environmental Protection Agency, Iran Red Crescent and Environmental Protection Organization.
World Health Organization, U.S. Environmental Protection Agency, Iran Red Crescent and Environmental Protection Organization.

Risiko ini semakin besar karena polusi yang dihasilkan berasal dari pembakaran minyak dalam jumlah besar. Kebakaran fasilitas energi melepaskan kombinasi partikel karbon, hidrokarbon, serta gas beracun yang dapat bertahan lama di udara.

Akibatnya, krisis yang muncul tidak hanya terkait kerusakan infrastruktur energi, tetapi juga kualitas udara yang dihirup warga setiap hari. Awan polusi yang menggantung di atas kota mengubah langit Teheran menjadi gelap, sementara partikel kimia menyebar bersama angin dan hujan.

Serangan terhadap fasilitas energi dalam konflik modern sering menghasilkan dampak seperti ini. Ketika tangki bahan bakar terbakar, efeknya meluas dari lokasi serangan menuju atmosfer kota. Dalam kasus Teheran, kebakaran depo minyak berubah menjadi krisis udara yang langsung menyentuh kehidupan jutaan penduduk.

CNBC Indonesia Research

(emb/wur)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research