Laba Bersih BSI Tumbuh 8 Persen, Bisnis Emas Jadi Penopang Utama

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh 8,02 persen (yoy). Pertumbuhan laba BSI ditopang fee-based income dari bisnis emas.

“Pertumbuhan laba di 2025 tidak terlepas dari beberapa perkembangan terkini, khususnya dari peningkatan fee-based income yang mencapai 25 persen. Peningkatan fee-based income ini memang secara lebih detail dikontribusi oleh produk-produk baru kita, terutama yang berkaitan dengan emas,” ungkap Direktur Finance & Strategy PT BSI Ade Cahyo Nugroho dalam konferensi pers Kinerja Tahun 2025 secara daring, Jumat (6/2/2026).

Cahyo menerangkan, pada Februari 2025, BSI telah diberikan license sebagai bullion bank. BSI langsung melakukan akselerasi setelah pemberian license tersebut dan mengklaim tingginya demand terhadap produk emas.

“BSI melakukan akselerasi yang berdampak positif terhadap peningkatan jumlah nasabah BSI yang menggunakan tabungan emas dan jumlah transaksinya. Tentu ini hal yang sangat positif dan ingin kita jaga ke depannya,” ujarnya.

Di sisi lain, Cahyo menerangkan, pertumbuhan laba pada 2025 juga didorong oleh penurunan cost of fund. Ia menyebut cost of fund di BSI dapat turun secara tahunan, yang salah satu pendorong utamanya, selain likuiditas yang makin baik, adalah pertumbuhan tabungan haji yang tahun lalu mengalami peningkatan positif.

“Di sisi lain, produk-produk high yield seperti cicil emas dan pembiayaan untuk payroll ASN juga memberikan dampak positif karena memiliki yield dan kualitas yang sangat baik,” terangnya.

Tercatat, sepanjang 2025, kinerja BSI tumbuh secara solid, baik dari sisi aset, pembiayaan, maupun Dana Pihak Ketiga (DPK).

Aset BSI mencapai Rp 456 triliun, tumbuh 11,64 persen secara year on year (yoy). Pembiayaan mencapai Rp 319 triliun, tumbuh 14,49 persen (yoy). Bank ini berhasil mempertahankan rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) yang rendah, yakni 1,81 persen pada 2025. DPK tercatat tumbuh 16,20 persen (yoy) menjadi Rp 380 triliun.

Pertumbuhan tabungan juga mencapai dua digit, yakni 15,72 persen menjadi Rp 163 triliun. Adapun tabungan haji tumbuh 10,03 persen menjadi Rp 15,9 triliun. Kinerja BSI yang tumbuh sangat pesat terlihat pada bisnis emas atau bullion. Tercatat, gold business BSI mencapai Rp 22,9 triliun, tumbuh 78,60 persen pada 2025.

Bullion banking masih akan terus menjadi fokus BSI pada 2026. BSI juga tetap berfokus pada sektor konsumer dan ritel atau UMKM dengan memanfaatkan wholesale corporate sebagai pintu masuk supply chain.

BSI juga mencatatkan peningkatan jumlah nasabah pada 2025 mencapai 2 juta, pertumbuhan tertinggi sejak BSI berdiri lima tahun lalu. Jumlah nasabah BSI telah menembus 23 juta hingga Desember 2025.

Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI semakin memperkuat posisinya sekaligus menunjukkan kontribusinya dalam perekonomian nasional. Keberhasilan BSI pada 2025 juga mencerminkan strategi yang tepat dalam menghadapi dinamika pasar dan kebutuhan nasabah, serta komitmen terhadap prinsip syariah yang mendasari operasionalnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research