Krisis Energi Tekan Kargo Udara, Peluang Logistik Laut dan Darat Menguat

6 hours ago 5

Truk membawa logistik untuk MotoGP usai bongkar muat dari pesawat B747 8F Nippon Cargo Airlines di Bandara Internasional Lombok (BIL), Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (3/10/2023). Pesawat dengan nomor penerbangan KZ6231 dari Jepang tersebut membawa logistik seberat 111 ton kargo berupa motor, mesin dan perangkat lainnya yang akan digunakan pada MotoGP di Sirkuit Mandalika 13-15 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Industri kargo udara global menghadapi tekanan seiring eskalasi konflik geopolitik dan disrupsi rantai pasok komoditas energi global yang terus berlanjut sejak awal 2026. Kenaikan tarif pengiriman, penerapan fuel surcharge, serta keterbatasan kapasitas menjadi indikator bahwa pasar kargo udara saat ini berada dalam fase biaya tinggi, kapasitas terbatas, dan volatil.

Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha global menyesuaikan strategi operasional logistik. Moda kargo udara yang selama ini menjadi andalan untuk pengiriman bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu kini tidak selalu menjadi pilihan utama. Sejumlah perusahaan mulai mengkaji ulang struktur biaya dan beralih ke alternatif yang lebih efisien, termasuk transportasi laut dan skema multimoda.

Senior Vice President FIATA dan Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai tekanan pada industri kargo udara global dipicu kenaikan harga komoditas energi sebagai dampak eskalasi geopolitik.

“Kenaikan harga avtur global secara historis berada pada kisaran 75–87 dolar AS per barel, namun saat ini mencapai 175–200 dolar AS per barel. Hal ini menyebabkan permintaan kargo udara global turun sekitar 22 persen, dengan rute Asia–Eropa tertekan hingga 39 persen,” ujar Yukki dalam keterangan, Selasa (14/4/2026).

Yukki menambahkan, dinamika global tersebut berdampak langsung pada sektor logistik nasional. Struktur logistik Indonesia yang masih didominasi transportasi darat hingga sekitar 90 persen membuat sistem distribusi domestik rentan terhadap tekanan eksternal.

Ketika biaya kargo udara meningkat, sebagian arus barang berpotensi bergeser ke moda darat dan laut. Kondisi ini dapat meningkatkan beban infrastruktur yang telah menghadapi tantangan kapasitas dan efisiensi.

“Pergeseran arus kargo udara ini menjadi peluang bagi pelaku usaha logistik laut dan darat dalam menjaga kelancaran distribusi. Namun, peluang ini hanya optimal jika diiringi peningkatan efisiensi operasional dan penguatan konektivitas pelabuhan dengan wilayah hinterland,” kata Yukki.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research