Krisis Energi Mengancam: IHSG dan Rupiah Tertekan, Bangkit atau Tumbang?

10 hours ago 2
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, saham dan rupiah melemah
  • Wall Street kembali ambruk di tengah naiknya harga minyak
  • Perkembangan perang dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan RI kembali labil. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) loyo lagi, tetapi rupiah dan obligasi bergerak stabil.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada hari ini, Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini

IHSG pada perdagangan kemarin Kamis (26/3/2026) bertengger di posisi 7.164,09. Dalam sehari turun 1,89% atau -138,03 poin.

Nilai transaksi mencapai Rp 31,95 triliun, melibatkan 29,45 miliar saham dalam 1,7 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali merosot menjadi Rp 12.594 triliun.

Nilai transaksi kemarin tinggi disebabkan oleh transaksi jumbo di pasar negosiasi. Sebanyak 28.870.682 lot saham FAPA berpindah tangan dengan harga rata-rata Rp 6.500. Dengan demikian total nilai transaksi mencapai Rp 18,8 triliun.

Kontras dengan perdagangan sehari sebelumnya, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Utilitas, bahan baku, dan teknologi menjadi sektor dengan penurunan paling dalam.

Pun saham-saham yang sehari sebelumnya menjadi penopang IHSG, pada kemarin berubah menjadi pemberat. PT Astra International (ASII) turun 5,3% ke level 6.250,membebani IHSG sebesar 14,33 indeks poin.

Lalu PT Telkom Indonesia (TLKM) koreksi -3,94% menyeret IHSG ke bawah sebesar 13,68 indeks poin.

Koreksi IHSG tidak sendiri, padakemarin bursa Asia juga membara. Nikkei di Jepang turun 0,27%, Kospi di Korea -3,22%, dan Hang Seng di Hong Kong anjlok 1,89%.

Mengutip CNBC.com, bursa di kawasan koreksi tajam seiring dengan pernyataan dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dia mengatakan bahwa pertukaran pesan antara kedua negara melalui mediator bukan berarti negara tersebut tengah melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Sebelumnya pada abu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa negara itu akan menolak tawaran gencatan senjata AS dan telah menguraikan syarat-syaratnya sendiri untuk mengakhiri perang.

Thierry Wizman, ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie Group, mengatakan bahwa gencatan senjata tidak akan segera terjadi.

"Sebaliknya, intensifikasi aksi militer oleh AS saat mereka mencoba mendorong Iran untuk membuat konsesi penting kemungkinan akan terjadi dalam dua minggu ke depan, sebelum operasi tempur besar berhasil, mungkin pada pertengahan April," kata Wizman.

"Perang sekarang mungkin memasuki fase ketiga 'bicara dan bertempur,' daripada hanya bicara, atau hanya bertempur," tulisnya dalam sebuah catatan.

Kemudian dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang penempatan dana pemerintah ke bank swasta, namun dengan syarat ketat. Dirinya menegaskan hanya bank dengan kondisi fundamental kuat atau "dapur sehat" yang bisa dipertimbangkan.

"Bank swasta kalo mau juga nanti akan kita buka, yang sehat ya. Nanti kalo enggak gue di penjara lagi," ujar Purbaya saat halal bihalal bersama pewarta, Rabu (25/3/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya mengungkapkan telah menambah penempatan dana pemerintah ke himpunan bank milik negara (Himbara) dan Bank Jakarta sebesar Rp 100 triliun. Dengan tambahan ini, total dana yang ditempatkan mencapai sekitar Rp 300 triliun.

Seiring dengan itu, pergerakan rupiah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat tipis.

Merujuk Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di level Rp16.895/US$ atau menguat 0,06% pada kemarin Kamis.

Meski demikian, penguatan rupiah pada sore kemarin lebih kecil dibandingkan posisi saat pembukaan. Pada pagi hari, rupiah sempat dibuka menguat 0,21% ke level Rp16.870/US$.

Walau tipis, penguatan ini tetap memperpanjang tren positif rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (25/3/2026), rupiah ditutup menguat 0,41% di level Rp16.905/US$.

Beralih ke pasar obligasi, yield untuk surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun terpantau stabil di posisi 6,84% sejak penutupan sebelum lebaran.

Yield yang stabil artinya tekanan jual dan beli masih berimbang. Meski begitu, perlu dipahami bahwa yield obligasi acuan RI ini sudah naik empat minggu beruntun dan sudah dekat 7%, yang artinya tekanan jual masih rawan terjadi.

Perlu dipahami juga, bahwa gerak yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah. Kalau yield naik, maka harga turun, begitupun sebaliknya.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research