Asia Dilanda Krisis Energi, Diam-Diam Pengusaha Batu Bara RI Tersenyum

9 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali membara ditopang lonjakan harga minyak dan gas alam.

Harga batu bara kontrak April pada perdagangan Kamis (26/3/2026) ditutup di US$ 142 per ton atau terbang 3,3%. Penguatan ini memutus tren negatif harga batu bara yang jatuh 6,1% dalam tiga hari sebelumnya.

Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 20 Maret 2026.

Harga batu bara kembali terbang seiring kekhawatiran krisis energi, terutama di Asia akibat lonjakan harga minyak.
Kontrak berjangka Brent crude melonjak 5,66% ke US$108,01 per barel. Sementara West Texas Intermediate naik 4,61% ke US$94,48 pada perdagangan Kamis kemarin.

Harga batu bara sebelumnya melonjak sekitar 20% sejak perang Iran dimulai, karena gangguan berkepanjangan terhadap aliran minyak dan gas global memaksa pembangkit listrik di negara-negara besar untuk semakin bergantung pada batu bara.

Ancaman krisis energi juga membuat banyak negara Asia kembali ke batu bara.

Kawasan Asia sangat rentan karena bergantung pada impor energi, yang sebagian besar melewati Selat Hormuz yang menjadi penghubung sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global.

LNG (gas alam cair) adalah gas yang didinginkan hingga berbentuk cair agar mudah disimpan dan diangkut. Selama ini LNG dipromosikan sebagai "bahan bakar transisi" dari batu bara dan minyak ke energi yang lebih bersih. Amerika Serikat juga berupaya memperluas ekspor LNG ke Asia. Meski lebih bersih dibanding batu bara, LNG tetap menghasilkan emisi, terutama metana.

Namun, perang membuat banyak negara kembali ke batu bara untuk menutup kekurangan LNG.

India meningkatkan pembakaran batu bara untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik musim panas. Korea Selatan mencabut pembatasan penggunaan listrik berbasis batu bara. Indonesia memprioritaskan penggunaan batu bara domestik. Thailand, Filipina, dan Vietnam juga meningkatkan pembangkit listrik berbasis batu bara.

Batu bara menjadi bagian penting dalam rencana darurat energi Asia karena ketersediaannya yang luas. Menurut Sandeep Pai dari Duke University, batu bara menjadi pilihan cadangan utama ketika energi terbarukan atau gas tidak mencukupi.

China, sebagai konsumen dan produsen batu bara terbesar dunia, telah menambah kapasitas pembangkit sejak 2021 untuk memperkuat ketahanan energi. Kebijakan nasionalnya masih mendukung penggunaan batu bara, meski kapasitas energi bersih terus berkembang.

India, konsumen terbesar kedua, menghadapi musim panas ekstrem dan akan bergantung pada batu bara untuk memenuhi permintaan puncak hingga 270 gigawatt. Cadangan batu bara saat ini cukup untuk sekitar tiga bulan.

Sebagian impor energi tetap berjalan. Misalnya, pengiriman LPG India masih bisa melewati Selat Hormuz, namun kemungkinan besar akan digunakan untuk industri seperti pupuk, bukan pembangkit listrik.

RI Untung?

Lonjakan permintaan ini bisa menguntungkan Indonesia sebagai eksportir terbesar batu bara thermal.

Pemerintah berencana meningkatkan produksi batu bara nasional sebagai langkah antisipasi terhadap dampak perang di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah tengah mengevaluasi kenaikan volume produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto.

Adapun, peningkatan produksi batu bara diharapkan dapat membantu menekan risiko lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta komoditas energi lainnya akibat gejolak geopolitik.
Saat ini, pemerintah tengah mengevaluasi kenaikan volume produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 untuk menentukan kuota produksi dan ekspor.

Kenaikan harga energi, termasuk batu bara membebani Asia Tenggara. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. bahkan menetapkan status darurat energi nasional.

Penggunaan batu bara yang meningkat saat ini juga berpotensi menghambat target pengurangan batu bara dalam jangka panjang.

Korea Selatan tetap berencana menghentikan PLTU pada 2040, namun kini memperbolehkan penggunaan batu bara lebih besar saat LNG terbatas. Padahal, untuk mencapai target net-zero, negara ini membutuhkan ekspansi besar energi terbarukan.

Dalam 11 tahun terakhir, Korea Selatan mengalokasikan US$127 miliar ke bahan bakar fosil. Jumlah ini 13 kali lebih besar dibanding investasi energi terbarukan.

Meski tetap berkomitmen mengurangi batu bara, langkah saat ini bisa menciptakan preseden jangka panjang.

Di negara seperti Thailand, dampak terhadap harga listrik relatif kecil karena batu bara hanya menyumbang kurang dari 10% bauran energi.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research