Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
26 March 2026 15:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Drone yang merupakan senjata standar saat perang kini berevolusi menjadi lebih efisien.
Jika sebelumnya satu drone membutuhkan banyak operator, kini teknologi berkembang ke arah sebaliknya. Sekarang, satu operator dapat mengendalikan banyak drone sekaligus.
Konsep "drone swarm" atau kawanan drone yang bekerja secara kolektif mulai mendekati realitas dan berpotensi mengubah dinamika peperangan global.
Dari Senjata Individu ke Kekuatan Kolektif
Selama ini, drone telah menjadi senjata utama di berbagai konflik, termasuk di Ukraina. Namun, di balik efektivitasnya, sistem ini masih belum efisien. Satu drone bahkan bisa membutuhkan hingga enam orang untuk operasi dan pemeliharaan.
Masalah inilah yang mendorong inovasi ke arah "swarming". Alih-alih bekerja sendiri, drone kini dirancang untuk bergerak sebagai kelompok yang terkoordinasi.
Ide ini terinspirasi dari alam, terutama oleh pergerakan kawanan burung dan ikan yang bergerak tanpa komando pusat namun bisa tetap sinkron melalui aturan sederhana.
Drone kini diharapkan mampu berkoordinasi untuk mengeksekusi misi secara otomatis hanya dengan satu komando.
Ukraina Jadi Laboratorium Inovasi Drone Swarm
Perkembangan paling pesat terlihat di Ukraina. Sejumlah perusahaan teknologi pertahanan di sana telah mengembangkan sistem swarm dengan berbagai tingkat kompleksitas, termasuk Sine Engineering, perusahaan yang berbasis di Lviv, Ukraina.
Salah satunya adalah sistem "Pasika", yang memungkinkan drone menemukan jalur sendiri, berkumpul di area tertentu, dan menunggu instruksi sebelum menyerang target. Teknologi ini bahkan disebut sebagai "cheat code" karena secara drastis mengurangi beban operator.
Ada juga pendekatan yang lebih sederhana namun efektif, seperti kombinasi drone "scout" dan "bomber". Dalam sistem ini, satu drone mencari target, sementara drone lain otomatis menyerang. Bahkan, uji coba menunjukkan satu operator kini bisa mengendalikan hingga 25 drone sekaligus.
Selain Ukraina, sebuah perusahaan Amerika Serikat bernama Auterion telah mengembangkan drone dengan kapabilitas kecerdasan buatan (AI), mulai dari navigasi otonom, penguncian target, hingga operasi dalam bentuk swarm.
Foto: Drone Lucas. (Ist Tangkapan Layar)
Drone Lucas. (Ist Tangkapan Layar)
Dalam program "Swarm Forge", terlihat bagaimana beberapa drone FPV dapat menyerang target secara berurutan hanya dengan satu perintah operator.
Sistem Nemyx milik Auterion memungkinkan drone saling berkomunikasi, membagi prioritas target, dan tetap terkoordinasi. Bahkan, jika satu drone gagal, drone lain otomatis mengambil alih target tersebut.
Singkatnya, teknologi ini mendorong pergeseran dari kontrol manual ke sistem serangan semi-otonom, di mana peran manusia semakin terbatas pada pemilihan target, sementara eksekusi dilakukan oleh sistem.
Dampak Strategis: Mengubah Cara Perang Dilakukan
Jika teknologi swarm matang, dampaknya terhadap strategi militer akan sangat besar.
Pertama, efisiensi meningkat drastis. Serangan bisa dilakukan secara simultan dengan koordinasi tinggi, tanpa perlu banyak operator. Kedua, swarm memungkinkan konsentrasi kekuatan secara cepat di satu titik, menciptakan efek serangan yang sulit ditahan.
Dalam beberapa laporan, serangan besar yang melibatkan ratusan drone dalam satu waktu sudah mulai terlihat, bahkan mampu membuka jalan bagi pergerakan pasukan di darat.
Meski begitu, membangun jaringan komunikasi (mesh network) yang stabil untuk koordinasi dalam skala besar masih menjadi tantangan. Para analis memperkirakan swarm skala besar (puluhan hingga ratusan drone) baru akan benar-benar matang dalam 2-3 tahun ke depan.
Namun, situasinya bisa berubah lebih cepat. Pada 13 Maret, komentator militer Rusia menggambarkan serangan Ukraina yang "besar-besaran" yang dilakukan dengan 300 hingga 400 drone di garis depan yang sempit.
Mereka dikatakan telah menyerang target hingga kedalaman 20 km dan memungkinkan kemajuan cepat pasukan Ukraina. Kawanan drone mungkin berperan.
Dengan kata lain, drone swarm berpotensi menggeser keseimbangan antara ofensif dan defensif, sekaligus mendefinisikan ulang masa depan peperangan.
(mae/mae)
Addsource on Google














































