Krisis Energi di Depan Mata: Harga Batu Bara Kembali Membara, Naik 2%

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali membara terbakar harga minyak dan gas serta ancaman krisis energi dunia.

Kontrak batu bara April pada perdagangan Kamis (5/3/2026) ditutup di posisi US$ 135,2 5per ton atau naik 1,7%.

Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 3,7% pada Rabu.

Harga batu bara sempat melonjak ke sekitar US$138 per ton pada Selasa atau mencapai level tertinggi sejak November 2024.

Harga batu bara melesat lagi Kamis kemarin setelah harga minyak terbang dan gas melonjak. Harga minyak WTI melonjak 8% pada perdagangan Kamis sementara gas Eropa naik 1%.

Batu bara adalah sumber energi substitusi bagi minyak dan gas sehingga harganya saling mempengaruhi.

Lonjakan harga dipicu penghentian operasi yang jarang terjadi di fasilitas gas alam cair (LNG) Qatar meningkatkan permintaan untuk peralihan bahan bakar (fuel switching) di sektor pembangkit listrik.

Kenaikan ini terjadi setelah serangan drone Iran terhadap pusat ekspor LNG utama Qatar, yang menyoroti meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Fasilitas tersebut memasok sekitar 20% pasokan LNG global dan belum pernah sepenuhnya menghentikan operasinya selama 30 tahun sejarahnya.

Dengan banyak ekonomi Asia bergantung pada LNG dari Qatar, Taiwan menyatakan kemungkinan akan meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara jika gangguan pasokan ini berlanjut.

Harga minyak juga naik setelah serangan Israel ke Iran meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Investor khawatir konflik bisa meluas dan mengganggu produksi maupun jalur distribusi minyak di kawasan tersebut.

Wilayah Teluk merupakan area vital bagi pasar energi dunia. Ketegangan militer di kawasan ini sering langsung memicu volatilitas harga minyak karena sebagian besar ekspor minyak global berasal dari sana.

Pelaku pasar paling khawatir terhadap kemungkinan gangguan di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan kecil sekalipun dapat langsung memicu lonjakan harga minyak global.

Dari India dilaporkan, saham Coal India melonjak lebih dari 4% pada Kamis, mengikuti reli tajam harga batu bara global di tengah ketegangan geopolitik di Asia Barat.

Premi kuat pada lelang elektronik serta meningkatnya permintaan domestik berpotensi meningkatkan laba perusahaan. Para analis menyebutkan bahwa setiap kenaikan INR 100 per ton pada harga realisasi e-auction dapat meningkatkan laba per saham (EPS) sekitar 2%.

Reli saham Coal India terjadi di tengah lonjakan harga batu bara global akibat ketegangan geopolitik di Asia Barat. Harga batubara termal Eropa mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023 sementara termal Afrika Selatan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024.

Batubara uap Northwest Europe, yang merupakan impor energi tinggi bagi Eropa, juga naik 16% menjadi US$133,18 per ton, atau melonjak 26% hanya dalam satu minggu.

Analis mencatat bahwa gangguan pasokan energi, termasuk penghentian produksi LNG oleh Qatar setelah mencegat drone Iran di dekat Ras Laffan, diperkirakan akan mendorong peralihan konsumsi dari gas ke batu bara, sehingga menopang harga batu bara global.

Pasar batu bara kokas (coking coal) di China juga mulai pulih. Namun, pemulihannya masih sangat lambat dan tanpa kepercayaan pasar yang kuat.

Kenaikan harga terjadi secara terbatas karena permintaan masih tertahan, terutama setelah pabrik kokas meminta penurunan harga coke dari produsen. Hal ini menekan sentimen pasar batubara bahan baku baja.

Setelah Festival Lantern pada 3 Maret, sebagian besar tambang batu bara di China telah kembali beroperasi normal.

Namun karena permintaan dari industri baja dan kokas masih lemah, penjualan batubara dari tambang belum pulih sepenuhnya.

Karena pengiriman tidak secepat produksi, persediaan coking coal di tambang mulai meningkat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih kelebihan pasokan relatif terhadap permintaan, sehingga kenaikan harga cenderung terbatas.

Fenomena ini juga pernah terjadi sebelumnya ketika permintaan pembelian melemah dan stok batu bara di tambang terus naik, menandakan pasar sedang lesu.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research