REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan merekomendasikan dua kebijakan strategis yang terbukti efektif di berbagai negara dan dapat dijadikan referensi bagi Indonesia untuk kontrol konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih. Direktur Penyakit tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pola konsumsi pangan masyarakat yang belum seimbang masih menjadi tantangan serius.
Konsumsi gula, garam dan lemak yang berlebihan berkontribusi langsung terhadap meningkatnya kasus diabetes, hipertensi, dan kelebihan berat badan, yang kemudian menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Kedua penyakit ini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan kajian pihaknya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Global Health Strategies, pendekatan pertama adalah pembatasan kandungan asam lemak trans maksimal dua persen pada seluruh produk pangan, seperti yang diterapkan di India.
Pendekatan kedua adalah pelarangan penggunaan minyak terhidrogenasi parsial, yang merupakan sumber utama asam lemak trans. Hal tersebut telah berhasil diterapkan di Singapura dan terbukti menurunkan asupan lemak trans masyarakat hingga 50 persen.
“Kajian ini menemukan bahwa apabila kita dapat menyelaraskan kebijakan pengendalian asam lemak trans dengan rekomendasi kebijakan global, kita bisa mencegah 310 ribu kematian dan 580 ribu penyakit jantung," kata Nadia, Selasa (6/2/2026).
Menurutnya, penerapan salah satu atau kedua kebijakan tersebut dinilai dapat memberikan perlindungan kesehatan yang signifikan. Alasannya asam lemak trans tidak memiliki manfaat bagi tubuh dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Tema Hari Gizi Nasional 2026, “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”, dinilai sangat relevan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya mengonsumsi pangan yang beragam serta menghindari asupan GGL secara berlebihan guna mencapai gizi seimbang.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan batas konsumsi harian gula maksimal 50 gram atau setara dengan empat sendok makan, garam maksimal 5 gram atau sekitar satu sendok teh, serta lemak maksimal 67 gram atau setara dengan lima sendok makan. “Pola konsumsi kita masih menunjukkan tingginya konsumsi pangan berisiko, yaitu gula, garam, dan lemak. Di daerah perkotaan, konsumsi gula, garam, dan lemak cenderung lebih tinggi. Hampir dua kali lipat dibandingkan dengan daerah pedesaan dan cenderung melebihi batas yang dianjurkan,” katanya.
Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan beberapa upaya, seperti penentuan batas maksimum GGL, memperkuat kebijakan label pangan, dan bersama dengan negara lainnya dalam mendorong upaya reformulasi dalam makanan dan minuman.
Momentum Hari Gizi Nasional dimanfaatkan untuk memperkuat pesan bahwa pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak adalah bagian penting dari penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. “Melalui kampanye Sehat dimulai dari Piringku, kami mengajak masyarakat untuk lebih sadar memilih pangan, mengatur porsi, dan mengutamakan gizi seimbang dari pangan lokal demi masa depan yang lebih sehat,” kata Nadia.
sumber : Antara

3 hours ago
3













































