Jakarta, CNBC Indonesia - Pulang malam lalu dilanjut makan besar, terlalu sering minum minuman manis, hobi gorengan, atau minim aktivitas fisik sering terasa sebagai kebiasaan yang "normal" dalam rutinitas sehari-hari. Perlu diingat, pola hidup seperti dapat meningkatkan kadar kolesterol dan gula darah secara perlahan.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada berat badan atau risiko diabetes, melainkan juga dapat "menyerang" liver (hati) dan memicu penumpukan lemak di hati atau fatty liver yang dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). Namun sangat disayangkan, gangguan hati sering berkembang tanpa gejala yang jelas dan sulit disadari hingga kondisinya sudah cukup serius.
Berdasarkan penjelasan Dr.dr. Kaka Renaldi, Sp.PD-KGEH, FINASIM dari Mayapada Hospital Kuningan, gangguan pada hati umumnya tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi metabolik yang berkembang perlahan tanpa disadari.
"Ketika kolesterol dan gula darah tidak terkontrol dalam jangka waktu tertentu, dampaknya tidak hanya memengaruhi metabolisme secara umum, tetapi juga fungsi hati. Karena itu, perubahan pada profil metabolik sebaiknya sudah menjadi sinyal untuk mulai memperhatikan kondisi hati sejak dini," ungkap dia dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Dia melanjutkan, pada tahap awal, fatty liver sering tidak menimbulkan keluhan yang khas. Sehingga, banyak orang tetap merasa sehat dan menjalani aktivitas seperti biasa, sehingga perubahan di dalam tubuh sering tidak terdeteksi sejak awal. Tidak jarang juga kondisi ini baru diketahui setelah berkembang lebih jauh.
Di samping itu, ia menjelaskan, keterkaitan antara kolesterol, gula darah, dan kesehatan liver (hati) menjadi penting untuk dipahami. Mengingat, kenaikan trigliserida, gula darah yang tidak stabil, berat badan bertambah, atau lingkar perut membesar bisa menjadi tanda metabolisme tubuh tidak berjalan optimal.
Pada akhirnya, menjaga kolesterol dan gula darah tetap stabil bukan hanya soal mencegah penyakit jantung atau diabetes, tetapi juga bagian penting dari menjaga kesehatan hati.
Untuk mendukung deteksi dini dan pengelolaan kondisi tersebut, Mayapada Hospital Kuningan (MHKN)menyediakan layanan kesehatan hati, gangguan metabolik, dan pengelolaan berat badan yang berfokus pada risiko seperti obesitas, diabetes, dislipidemia, dan sindrom metabolik. Pemeriksaan seperti USG abdomen, CT scan, MRI, dan endoskopi tersedia untuk membantu evaluasi kondisi secara lebih akurat.
Layanan ini didukung oleh tim dokter multidisiplin dan fasilitas modern seperti USG elastografi untuk pemeriksaan hati non-invasif, serta Total Body Matrix Assessment(TBMA) untuk evaluasi komposisi tubuh dan indikator metabolik. Seluruh layanan tersebut merupakan bagian dari Gastrohepatology Center, layanan komprehensif untuk penanganan gangguan saluran pencernaan yang tersedia di seluruh unit Mayapada Hospital, mulai dari Jakarta Selatan (Lebak Bulus dan Kuningan Rasuna Said), Tangerang, Bogor, Surabaya, hingga Bandung, dan akan segera hadir di Jakarta Timur.
Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, atau melalui aplikasi MyCare. Melalui aplikasi ini, masyarakat juga dapat mengakses informasi kesehatan dari dokter Mayapada Hospital lewat fitur Health Articles & Tips, serta fitur Personal Health untuk memantau detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).
(dpu/dpu)
Addsource on Google













































