REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produktivitas tambak di Aceh yang sempat terhenti akibat bencana hidrologi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini mempercepat rehabilitasi kawasan tambak agar para petambak bisa kembali berbudidaya dan menggerakkan ekonomi pesisir.
Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha mengatakan, pemerintah menargetkan 15.000 hektare tambak di Aceh kembali beroperasi hingga akhir 2026. Dalam tahap awal, seluas kurang lebih 5.200 hektare tambak ditargetkan operasional kembali paling lambat September 2026.
Menurut Andy, pemulihan tidak berhenti pada perbaikan tambak yang rusak. Setelah rehabilitasi selesai, pemerintah langsung menyalurkan benih dan pakan agar petambak bisa segera memulai kembali aktivitas budidaya. Sinergi KKP dengan pemerintah daerah serta dukungan Komisi IV DPR RI menjadi salah satu kunci percepatan pemulihan ini.
"Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat kembali berproduksi. Karena itu setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budidaya," ujar Andy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Hingga saat ini, seluas 694 hektare tambak telah kembali beroperasi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin. Pemerintah optimistis luasan tersebut akan terus bertambah seiring percepatan rehabilitasi di berbagai wilayah terdampak.
Untuk mendukung percepatan pemulihan, KKP juga menyalurkan 12 unit excavator ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Delapan unit di antaranya difokuskan untuk mempercepat rehabilitasi tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.
Selain memperbaiki infrastruktur tambak, pemerintah juga memperkuat sektor perikanan tangkap dengan memberikan bantuan mesin kapal serta 100 unit coolbox berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.
Andy mengungkapkan, berdasarkan teknologi tradisional plus yang dilakukan masyarakat saat ini, setiap hektare tambak yang dioperasionalkan kembali oleh masyarakat diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang per hektare dalam satu siklus budidaya. Dengan harga jual rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi omzet mencapai sekitar Rp30 juta per hektare dalam 3 bulan.
"Keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari selesainya rehabilitasi, tetapi dari kemampuan petambak kembali bekerja dan memperoleh pendapatan," katanya.

1 hour ago
1

















































