REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah memfokuskan diri untuk mengembangkan ekosistem bisnis wellness tourism atau wisata kebugaran yang berkelanjutan. Langkah ini diambil sebagai strategi utama untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata nasional di kancah global.
Juru Bicara Kemenpar, Nia Niscaya, mengungkapkan bahwa pengembangan ekosistem ini menjadi fokus kuat kementeriannya saat ini. Upaya tersebut mencakup berbagai area vital seperti peningkatan destinasi, standar layanan, inovasi produk, investasi, promosi, hingga kapasitas sumber daya manusia.
Kemenpar meyakini bahwa wellness tourism dapat menjadi penggerak utama bisnis pariwisata berkualitas tinggi. Wisatawan yang mencari layanan kebugaran tidak hanya datang untuk melihat destinasi, tetapi juga untuk menikmati pengalaman yang berkesan.
Alhasil, mereka cenderung tinggal lebih lama, membuka peluang pengeluaran yang lebih besar. "Wellness tourism memainkan peran kunci di sektor pariwisata karena menjadi komponen utama dalam mendukung wisata olahraga, selain event, wisata petualangan, dan wisata berbasis pengalaman atau kawasan terpadu," ujar Nia.
Kontribusi Signifikan dan Potensi Pasar
Berdasarkan data Kedatangan Wisatawan Mancanegara berdasarkan Aktivitas Wisata yang Dilakukan di Indonesia tahun 2024, wellness tourism menyumbang 13,35 persen terhadap total kunjungan wisatawan mancanegara. Angka ini menunjukkan kontribusi yang sangat signifikan bagi industri pariwisata nasional.
Sementara itu, laporan Global Wellness Institute (GWI) mengindikasikan bahwa industri wellness tourism global berpotensi menghasilkan dampak ekonomi senilai 6,8 triliun dolar AS pada 2024. Angka tersebut diproyeksikan akan terus meningkat menjadi 9,75 triliun dolar AS pada tahun 2029.
Laporan GWI 2024 juga mengidentifikasi Indonesia sebagai rumah bagi ekonomi kebugaran terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai mencapai 55,77 miliar dolar AS. Potensi besar ini menjadi landasan kuat bagi Kemenpar untuk terus menggenjot sektor ini.
Target Wisatawan Milenial dan Gen Z
Dalam strategi promosinya, Kemenpar secara spesifik menargetkan wisatawan dari kelompok Milenial dan Gen Z. Kedua kelompok ini dinilai akan semakin aktif dalam melakukan perjalanan domestik maupun internasional.
Hal ini sejalan dengan survei American Express Travel yang termuat dalam Indonesia Tourism Outlook 2025–2026. "Motivasi mereka bukan hanya mengunjungi destinasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru, menghadiri acara, serta menikmati aktivitas olahraga dan kebugaran," jelas Nia.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

2 hours ago
2
















































