Jejak Krisis Minyak Dunia Sepanjang Sejarah, Mana Paling Mengguncang?

6 hours ago 3

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

05 March 2026 12:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak telah mengalami perubahan yang cukup besar selama beberapa dekade, terutama saat terjadi krisis global. Tingkat harga minyak mentah merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang paling diperhatikan oleh pelaku pasar, pembuat kebijakan, dan analis global.

Minyak diperdagangkan menggunakan unit volume sederhana yaitu US Dollar per barel (159 liter), namun pergerakannya mencerminkan dinamika geopolitik, struktur ekonomi global, hingga perubahan permintaan energi.

Harga minyak secara umum terbagi menjadi dua jenis utama karena pasar internasional terutama di New York dan London menggunakan acuan yang berbeda, yakni Brent untuk Eropa dan perdagangan global serta WTI (West Texas Intermediate) untuk Amerika Utara).

Sejumlah krisis besar dalam sejarah turut membentuk dinamika harga minyak dunia. Berikut beberapa krisis yang pernah terjadi dan meninggalkan dampak signifikan terhadap pasar energi global.

Krisis Minyak Pertama

Dari tahun 1860 hingga 1940, harga minyak per barel berfluktuasi mengikuti peristiwa-peristiwa global. Harga meningkat selama Perang Dunia I dan jatuh saat krisis ekonomi 1929. Antara 1948 hingga 1970, harga relatif stabil dan rendah, sebelum memasuki serangkaian krisis yang dikenal sebagai "guncangan minyak" (oil shocks).

"Guncangan minyak pertama" dimulai pada 1971 ketika sistem keuangan internasional Bretton Woods ditinggalkan. Krisis ini semakin memanas pada 1973 selama Perang Yom Kippur, ketika negara-negara penghasil minyak di dunia Arab mengumumkan embargo minyak terhadap negara-negara yang mendukung Israel. Dalam waktu satu tahun, harga minyak per barel melonjak hingga empat kali lipat.

Guncangan Besar 1973 - 1974

Krisis minyak pertama terjadi pada 1973 ketika negara-negara Arab anggota OPEC menerapkan embargo terhadap negara-negara yang mendukung Israel selama Perang Yom Kippur.

OAPEC menghentikan ekspor minyak ke AS dan beberapa sekutunya serta memangkas produksi sekitar 5% per bulan.

Langkah ini menyebabkan pasokan minyak global terganggu secara drastis, sehingga harga minyak melonjak hampir empat kali lipat dalam waktu singkat atau dari sekitar US$3 per barel pada 1973 menjadi hampir US$12 per barel pada awal 1974. Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor energi, tetapi juga meluas ke ekonomi global yang memicu inflasi tinggi dan resesi di banyak negara maju.

Pada Desember 1973, ribuan mobil di banyak jalan raya di Amerika Serikat terjebak kemacetan sepanjang bermil-mil selama berjam-jam. Para sopir truk menghentikan lalu lintas sebagai bentuk protes terhadap harga bensin yang melonjak cepat: pada September 1973 harga bensin sekitar 27 sen per galon, namun pada Desember telah naik menjadi 50 sen.

Harga minyak mentahFoto: EIA
Harga minyak mentah

Antrean panjang di SPBU dan kebijakan pembatasan pembelian bensin di negara-negara industri menjadi tanda paling nyata dari "guncangan minyak" di dunia. Sebuah papan pengumuman di salah satu SPBU di AS berbunyi: "Kekurangan bensin! Penjualan dibatasi maksimal 10 galon per pelanggan." Papan lainnya bahkan lebih singkat: "Maaf, hari ini tidak ada bensin."

Di Jepang, ketakutan akan kekurangan minyak bahkan meluas hingga ke barang kebutuhan lain seperti tisu toilet. Warga berbondong-bondong menyerbu toko bahan makanan dalam kepanikan untuk membeli sebanyak mungkin sebelum stok habis.

Krisis kekurangan minyak pada 1973-1974 serta lonjakan tajam harga bensin merupakan hasil dari dua proses utama yakni meningkatnya pengaruh OPEC dan embargo minyak oleh negara-negara Arab.

Pada 1960-an, OPEC belum dianggap serius oleh perusahaan minyak besar Amerika dan Eropa. Namun situasi berubah setelah Muammar Qaddafi mengambil alih kekuasaan di Libya pada 1969. Ia menekan perusahaan minyak untuk memberikan bagian keuntungan lebih besar bagi negaranya. Hasilnya, Libya berhasil menaikkan harga minyak dan memperoleh porsi keuntungan mayoritas sekitar 54-58%, yang kemudian diikuti negara lain seperti Iran dan Kuwait.

Pada 1971, kekuatan tawar OPEC semakin meningkat. Kesepakatan Teheran dan Tripoli antara negara penghasil minyak dan perusahaan minyak internasional menaikkan harga minyak serta meningkatkan porsi keuntungan negara produsen menjadi sekitar 55%.

Situasi makin kompleks ketika pada Agustus 1971 Amerika Serikat meninggalkan standar emas dan dolar melemah. Karena minyak diperdagangkan dalam dolar, pendapatan negara OPEC ikut turun. OPEC kemudian menuntut kenaikan harga minyak untuk mengimbangi penurunan nilai dolar, yang memicu serangkaian kenaikan harga pada 1972-1973.

Pada 16 Oktober 1973, negara-negara Teluk menaikkan harga minyak sekitar 70%. Sehari kemudian, negara-negara Arab memutuskan menggunakan "senjata minyak" dengan melakukan embargo terhadap negara yang mendukung Israel, termasuk Amerika Serikat dan Belanda, setelah Presiden Richard Nixon memberikan bantuan militer kepada Israel.

Perang dan embargo tersebut mendorong harga minyak melonjak tajam. Pada Desember 1973, OPEC menetapkan harga sekitar US$11,65 per barel, jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Pendapatan ekspor minyak negara OPEC melonjak dari US$7,7 miliar pada 1970 menjadi US$88,8 miliar pada 1974, menandai lahirnya era petrodollar.

Embargo akhirnya dicabut pada 1974. Meski sebenarnya hanya mengurangi sekitar 9% pasokan minyak dunia selama lima bulan, penggunaan "senjata minyak" menimbulkan kepanikan global dan menunjukkan kekuatan geopolitik baru negara-negara penghasil minyak.

Fluktuasi Ekstrim Tahun 2008

Pada 2008, harga minyak mengalami fluktuasi harga yang sangat tajam akibat gejolak pasar finansial global. Sebelum krisis finansial mencapai puncaknya, harga minyak Brent bahkan sempat menembus level tertinggi, karena ekspektasi permintaan yang kuat dan spekulasi pasar.

Namun, ketika krisis subprime merembet menjadi resesi global, permintaan energi anjlok dan harga minyak jatuh drastis dalam waktu singkat.

Anjloknya Harga Minyak Tahun 2014 - 2016

Periode 2014 hingga 2016 ditandai dengan kejatuhan harga minyak yang signifikan akibat kombinasi over supply dan pertumbuhan produksi minyak serpih (shale oil) di Amerika Serikat.

Kelebihan pasokan global, yang tidak diimbangi oleh pertumbuhan permintaan, membuat harga minyak bergerak turun tajam dan bertahan pada level rendah dalam waktu yang relatif panjang.

Pandemi Covid-19 Tahun 2020

Pandemi Covid-19 memicu penurunan permintaan energi secara dramatis akibat lockdown global dan pembatasan mobilitas. Kontraksi permintaan membuat harga minyak jatuh bebas, bahkan sempat mengalami fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti kontrak berjangka minyak WTI yang sempat diperdagangkan di harga negatif, mencerminkan tekanan ekstrim pada pasar dan kapasitas penyimpanan yang penuh.

Perang Ukraina 2022

Perang antara Rusia dan Ukraina yang pecah pada awal 2022 kembali mengguncang pasar minyak dunia. Rusia sebagai salah satu produsen minyak terbesar menghadapi sanksi ekonomi dari negara Barat, yang menciptakan ketidakpastian pasokan dan mengangkat kembali harga minyak dari level sebelumnya.

Peristiwa ini menunjukkan betapa konflik geopolitik tetap menjadi faktor utama yang mampu mempengaruhi harga energi global secara signifikan.

Dampak Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Selat Hormuz adalah jalur strategis yang dilalui sekitar 30% dari semua minyak mentah dunia, dengan rata-rata sekitar 13 juta barel per hari yang diekspor melalui selat tersebut.

Menurut analis dan laporan internasional, negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan China termasuk yang paling rentan karena sebagian besar minyak mentah mereka masuk dari Teluk melalui Selat Hormuz. Jepang dan Korea Selatan, mengimpor lebih dari 70-80% kebutuhan minyak mereka melalui rute ini.

Dampaknya sudah mulai terlihat di pasar yaitu, harga minyak mentah Brent naik, dan kenaikan tersebut berpotensi menekan inflasi, memperbesar defisit neraca perdagangan, serta memukul pertumbuhan ekonomi di negara importir energi.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research