REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA —Pagi itu, udara di kawasan Lapangan Banteng terasa berbeda. Matahari baru naik, tetapi peserta aksi sudah berkumpul di Pintu Barat lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/5/2026). Di antara langkah-langkah itu, tampak anak-anak kecil menggenggam bendera Palestina, ibu-ibu berkerudung keffiyeh, hingga para ayah yang berjalan sambil menuntun tangan putra-putrinya.
Mereka datang untuk satu tujuan yang sama, yakni menjaga ingatan tentang Palestina agar tidak padam. Agenda bertajuk Maqdisy Heroes Long March Vol. 02 itu bukan sekadar jalan santai. Ia menjadi ruang untuk menyuarakan solidaritas kemanusiaan, sekaligus mengingatkan publik bahwa penjajahan masih berlangsung di tanah Palestina.
Salah satu peserta asal Bintaro, Amar tampak berjalan bersama istri dan kedua anaknya menuju lokasi acara. Salah satu anaknya membawa poster bertuliskan, “Pondasi Baitul Maqdis Setiap Hari Dikikis Zionis.” Sementara sang istri mengenakan kerudung bermotif keffiyeh khas Palestina.
Bagi Amar, membawa anak-anak ke acara itu bukan keputusan spontan. Sejak tragedi kemanusiaan yang kembali memuncak pada 7 Oktober lalu, ia merasa penting menanamkan kepedulian terhadap Palestina sejak dini di lingkungan keluarganya.
“Buat orang Islam penting banget peduli terhadap Baitul Maqdis. Kadang-kadang kita sebagai Muslim harusnya ingat ya, bahwa masjid kita itu tiga bukan dua. Jadi ada tiga masjid suci yang harus kita jaga, dan orang-orang banyak lupa masalah itu,” ujar Amar saat berbincang dengan Republika.
Baginya, Palestina bukan isu yang jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia. Ada ikatan sejarah, kemanusiaan, dan spiritual yang membuat persoalan itu terasa dekat.“Saya membawa anak-anak untuk membawa kesadaran agar selalu peduli pada saudara Muslim kita di Gaza,”kata dia.
Nuansa serupa juga tampak dari keluarga Fadil. Ia datang bersama istri dan anak-anaknya yang telah menyiapkan penampilan khusus untuk acara tersebut. Di area kegiatan, anak-anak memang diberi ruang untuk mengekspresikan solidaritas mereka lewat puisi, nyanyian, hingga cerita tentang Palestina.
“Jadi memang ada kayak lomba gitu, anak-anak itu nunjukin aksinya, kegiatannya dalam bentuk bisa puisi, bisa nyanyi, bisa cerita dan seterusnya. Nah, kebetulan Alhamdulillahnya anak-anak ketika ditawarin juga mau, senang, jadi kita ikut,” kata Fadil.

3 hours ago
1











































