REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada masa ketika hidup terasa seperti lorong yang semakin menyempit. Pekerjaan belum juga ditemukan, usaha kehilangan arah, utang datang bergantian, rumah tangga berada di tepi perpisahan, atau sebuah persoalan terasa terlalu rumit untuk diselesaikan. Kita telah mengetuk banyak pintu, tetapi semuanya seolah tertutup.
Pada saat seperti itu, manusia mudah mengira bahwa jalan keluar hanya dapat datang dari arah yang telah diperhitungkannya: dari seseorang yang berpengaruh, sejumlah uang, sebuah jabatan, atau rencana yang disusun dengan cermat. Ketika semua itu tidak menolong, hati pun mulai kehilangan harapan.
Surah At-Talaq ayat 2–3 mengubah cara kita memandang jalan keluar. Allah tidak terlebih dahulu menjanjikan bahwa semua keadaan akan berlangsung sesuai keinginan manusia. Dia justru mengajarkan tiga pijakan: bertakwa, bertawakal, dan menerima bahwa segala sesuatu memiliki ukuran serta waktunya sendiri.
Jalan keluar dari Allah tidak selalu datang melalui pintu yang selama ini kita ketuk. Terkadang ia muncul dari arah yang tidak pernah masuk dalam perhitungan kita.
فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Fa iżā balagna ajalahunna fa amsikūhunna bima‘rūfin au fāriqūhunna bima‘rūfin wa asyhidū żawai ‘adlin minkum wa aqīmusy-syahādata lillāh. Żālikum yū‘aẓu bihī man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhir. Wa man yattaqillāha yaj‘al lahū makhrajā.
Wa yarzuqhu min ḥaiṡu lā yaḥtasib. Wa man yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh. Innallāha bāligu amrih. Qad ja‘alallāhu likulli syai’in qadrā.
“Apabila mereka telah mendekati akhir masa idahnya, rujuklah mereka dengan cara yang patut atau lepaskanlah mereka dengan cara yang patut. Persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kamu dan tegakkanlah kesaksian karena Allah. Demikianlah nasihat bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia membukakan jalan keluar baginya.
Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah menuntaskan urusan-Nya. Allah telah menetapkan ukuran bagi segala sesuatu.” (At-Talaq ayat 2–3)
Konteks yang paling jelas dari susunan ayatnya adalah tata cara menghadapi perceraian. Allah memerintahkan agar perempuan yang mendekati akhir masa idah diperlakukan secara baik: dipertahankan dengan patut atau dilepaskan dengan patut, serta menghadirkan saksi yang adil. Ayat ini dengan demikian berbicara tentang jalan keluar yang lahir ketika seseorang tetap tunduk kepada ketentuan Allah, bahkan di tengah konflik rumah tangga yang sarat emosi.
Allah Memberikan Jalan Keluar
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, Allah akan memberinya jalan keluar dari kesulitan serta rezeki dari arah yang tidak pernah diperkirakannya. Penjelasan ini menempatkan takwa bukan sebagai perasaan takut yang pasif, tetapi sebagai ketaatan yang nyata dalam pilihan dan tindakan.
Dalam konteks Surah At-Talaq, takwa terlihat pada kemampuan seseorang menahan diri ketika rumah tangganya berada dalam krisis. Perceraian tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci, mempermalukan, mengusir secara sewenang-wenang, menghilangkan hak, atau mempermainkan masa idah. Bahkan ketika hubungan harus diakhiri, Al-Qur’an tetap memerintahkan agar perpisahan dilakukan dengan ma‘ruf: patut, bermartabat, dan tidak menzalimi.
Di sinilah janji jalan keluar memiliki kedalaman yang sering terlewatkan. Ayat ini tidak sekadar mengajarkan bacaan untuk mendatangkan kemudahan. Ia lebih dahulu meminta manusia memperbaiki sikapnya. Jalan keluar dikaitkan dengan takwa, sedangkan takwa menuntut keberanian untuk tetap jujur, adil, dan taat ketika hawa nafsu mendorong kita mengambil jalan yang salah.

11 hours ago
3

















































