REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Serangan udara Israel kembali menewaskan empat warga Palestina di Jalur Gaza. Serangan itu menandai berlanjutnya agresi militer Israel, meskipun terdapat gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Aljazeera, Senin (23/3/2026), pejabat Palestina melaporkan, tiga korban yang wafat dalam serangan udara tersebut merupakan anggota kepolisian setempat. Mereka meninggal dunia setelah sebuah kendaraan yang ditumpangi dihantam serangan udara di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah pada Ahad (22/3/2026).
Selain itu, sedikitnya 10 orang dilaporkan mengalami luka-luka dalam serangan tersebut. Sementara itu, satu korban lainnya meninggal dalam serangan terpisah yang terjadi di lingkungan Sheikh Radwan, Gaza utara.
Korban disebut sebagai tokoh senior dari kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Fatah. Hingga kini, pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sedikitnya 680 warga Palestina telah meninggal akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu. Di sisi lain, Israel melaporkan empat tentaranya tewas dalam periode yang sama.
Serangan juga terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir. Pada Kamis, serangan pesawat nirawak di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya.
Sejak dimulainya agresi pada Oktober 2023, jumlah korban jiwa warga Palestina di Gaza dilaporkan telah melampaui 72 ribu orang. Korban mayoritas terdiri atas perempuan dan anak-anak. Sejumlah peneliti independen bahkan memperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Di tengah situasi tersebut, sebagian besar penduduk Gaza masih hidup dalam pengungsian. Mereka bertahan di tempat penampungan darurat dengan akses yang semakin terbatas terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Kondisi di wilayah lain juga memburuk. Di Tepi Barat yang diduduki, kekerasan dilaporkan meningkat tajam. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa lebih dari 30 ribu warga Palestina telah dipaksa mengungsi dalam sepekan terakhir.
Data PBB juga menunjukkan bahwa sejak awal 2026, lebih dari 1.500 warga Palestina mengungsi akibat serangan pemukim Israel serta pembatasan akses. Angka tersebut mencapai sekitar 95 persen dari total pengungsian sepanjang tahun 2025.
Badan UNRWA memperingatkan meningkatnya kebutuhan kemanusiaan di Gaza, seiring tekanan besar terhadap distribusi bantuan. Penyeberangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) saat ini menjadi satu-satunya jalur kargo yang beroperasi antara Israel dan Gaza, yang dinilai PBB sebagai hambatan serius bagi masuknya bantuan.
Sementara itu, pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, dalam laporan terbarunya menuduh Israel menyiksa tahanan Palestina dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mengungkap adanya praktik pemukulan, kekerasan seksual, serta penahanan dalam kondisi kelaparan terhadap puluhan ribu tahanan.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 18.500 warga Palestina telah ditangkap sejak Oktober 2023, termasuk sedikitnya 1.500 anak-anak.

4 hours ago
1
















































