IHSG-Rupiah di Bawah Bayang-Bayang Kabar Pertemuan MSCI hingga Perang

9 hours ago 1
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG melemah sementara rupiah menguat tipis
  • Wall Street ditutup beragam, S&P dan Nasdaq rekor sementara Dow Jones melemah
  •  Pasar keuangan hari ini akan mencermati keputusan suku bunga Bank Sentral Jepang, sentimen MSCI, reshuffle kabinet, hingga optimisme pemerintah terhadap IHSG dan pertumbuhan ekonomi.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin, Senin (27/4/2026). Bursa saham melemah, sementara rupiah berhasil menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatil pada hari ini, Selasa (28/4/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba anjlok pada perdagangan kemarin Senin. IHSG yang sempat menguat pada sesi pertama akhirnya ditutup turun 22,97 poin atau 0,32% ke level 7.106,52 pada penutupan perdagangan sesi kedua.

Meski IHSG ditutup melemah, kebanyakan saham sebenarnya berada di zona hijau. Nilai transaksi juga terbilang tinggi, mencapai Rp16,57 triliun dengan melibatkan 33,17 miliar saham dalam 2,20 juta kali transaksi.

Berdasarkan data pasar, saham-saham bank jumbo mencatat nilai transaksi terbesar. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memimpin dengan total transaksi Rp3,28 triliun. Namun, saham emiten Grup Djarum tersebut melemah dan sempat menyentuh Rp5.975 atau turun 1,24%.

Setelah BBCA, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatat nilai transaksi sebesar Rp2,28 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp1,33 triliun.

Mayoritas sektor perdagangan melemah pada perdagangan kemarin. Koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor energi dan finansial.

Tekanan di sektor finansial terlihat dari pelemahan sejumlah saham perbankan besar. Emiten perbankan kakap kompak terkoreksi, dengan pelemahan terbesar dicatatkan oleh Bank Permata (BNLI) dan Bank Danamon (BDMN).

Selain perbankan, tekanan juga datang dari sejumlah emiten konglomerasi dan energi. Dua emiten Grup Prajogo Pangestu, yakni PT Petrosea Tbk. (PTRO) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), tercatat melemah signifikan.

Sementara itu, emiten tambang batu bara Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), kembali anjlok 8,66% ke level Rp1.845 per saham. Saham DSSA telah turun 43% dalam sepekan setelah pengumuman terbaru dari MSCI.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG masih datang dari saham-saham berkapitalisasi besar dan emiten yang sedang menjadi sorotan pasar. Meski sebagian besar saham berada di zona hijau, pelemahan pada saham-saham besar cukup kuat untuk menyeret indeks ke zona merah.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan ini.

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan pertama pekan ini di zona hijau dengan apresiasi tipis 0,03% ke level Rp17.185/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup volatil. Pada pembukaan perdagangan, rupiah stagnan di level Rp17.190/US$, sama seperti posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Namun, rupiah sempat masuk ke zona merah hingga menyentuh level terlemahnya hari itu di Rp17.235/US$. Setelah itu, mata uang Garuda berbalik arah dan akhirnya ditutup menguat tipis.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pasar yang masih berhati-hati melihat arah ekonomi global. Ketidakpastian dari luar negeri masih menjadi tekanan utama, mulai dari kebijakan tarif, suku bunga tinggi di AS, hingga konflik Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kondisi global saat ini masih penuh tantangan. Menurutnya, dunia sedang tidak baik-baik saja karena ketidakpastian masih tinggi dan ekonomi global cenderung melambat.

Hal tersebut disampaikan Perry dalam National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin (27/4/2026).

"Dampak konflik Timur Tengah sungguh dicermati dan waspadai tidak hanya minyak tinggi dan tingginya suku bunga AS dan aliran modal keluar dan tekanan ekonomi kita," ujar Perry.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari pergerakan dolar AS, tetapi juga dari kombinasi risiko global yang lebih luas. Konflik Timur Tengah berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi, sementara suku bunga AS yang masih berada di level tinggi dapat membuat arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, rupiah menjadi lebih rentan bergerak volatil. Ketika investor global memilih aset yang dianggap lebih aman, tekanan terhadap mata uang negara berkembang biasanya ikut meningkat.

Perry menilai Indonesia perlu memperkuat sinergi untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik. Bank Indonesia bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara, pelaku usaha, dan investor mendorong program Percepatan Intermediasi Nasional atau PINISI.

Program ini diarahkan untuk memperkuat pembiayaan, mendorong realisasi proyek, serta menjaga momentum ekonomi dalam negeri di tengah tekanan global.

"PINISI kita harapkan dapat melakukan interaksi baik dalam kesepakatan, pembiayaan, dan realisasi proyek," papar Perry.

Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik pada penutupan perdagangan Senin. Yield SBN ditutup di level 6,814%.

Sebagai catatan, kenaikan imbal hasil mengindikasikan harga SBN sedang turun yang artinya pelaku pasar tengah melakukan aksi jual pada SBN.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research