Ini Dia Sosok di Balik Pemilik Pabrik Mie Sedaap yang Heboh Soal PHK

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar 400 karyawan outsourcing di pabrik PT Karunia Alam Segar, produsen Mie Sedaap di Gresik, Jawa Timur, dikabarkan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Manajemen perusahaan menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari langkah penyesuaian operasional internal. Mereka menegaskan keputusan ini tidak berkaitan dengan momentum tertentu, termasuk bulan Ramadan.

"Penyesuaian ini merupakan bagian dari langkah manajerial yang dilakukan secara terukur dan sesuai ketentuan yang berlaku, bukan karena adanya momen tertentu seperti Ramadan," ujar Human Resources & General Affairs PT Karunia Alam Segar, Peter Sindaru, kepada CNBC Indonesia, Senin (23/2/2026).

Namun, ketika polemik mencuat, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyatakan pihak perusahaan berjanji akan menghentikan PHK tersebut.

"Dan didapatkan hasil bahwa pihak Mie Sedaap akan segera menyetop PHK yang terjadi dan pihak Mie Sedaap juga berjanji tidak akan ada PHK-PHK di Mie Sedaap lagi," kata Dasco kepada wartawan di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Ternyata, di balik merek Mie Sedaap, terdapat grup besar yang telah puluhan tahun menguasai pasar consumer goods nasional. Mie Sedaap merupakan produk dari WingsFood, anak usaha dari Wings Group.

Dalam situs resmi perusahaan, Wings Group sendiri berdiri sejak 1948 di Surabaya dengan nama awal Fa Wings. Perusahaan ini dirintis oleh Harjo Sutanto bersama rekannya Ferdinand Katuari. Awalnya, Wings memasarkan produk sabun bermerek GIV yang sukses besar di pasaran. Namun, perlahan merambah ke berbagai lini produk lain seperti pasta gigi, deterjen, pembersih toilet, hingga makanan dan minuman.

Mie Sedaap sendiri baru diperkenalkan ke publik pada 2003. Saat itu, pasar mi instan nasional telah dikuasai oleh Indomie milik Salim Group. Pada awal kemunculannya, Mie Sedaap sempat tidak diperhitungkan.

Menurut buku marketing berjudul Strategi Pemasaran Berbasis Strategi Perang (2024), pandangan ini kemudian berubah ketika Mie Sedaap hadir dengan harga yang lebih murah, kualitas produk yang kompetitif, serta tekstur mi yang dianggap lebih kenyal perlahan mengubah persepsi pasar.

Selain itu, strategi pemasaran Mie Sedaap juga tak biasa. Pabrikan menyasar toko-toko kecil di desa-desa. Barulah setelahnya ekspansi ke kota dan toko besar, serta kampanye iklan di berbagai media. 

Berkat upaya ini, Mie Sedaap tak lama menguasai sekitar 15% pangsa pasar mi instan nasional. Kehadirannya bahkan disebut cukup merepotkan dominasi Indomie yang selama puluhan tahun nyaris tanpa pesaing serius.

(mfa/mfa)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research