Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
09 March 2026 02:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah perkembangan media sosial yang begitu cepat, cara masyarakat mengekspresikan diri ikut berubah. Aktivitas sehari-hari, pencapaian profesional, hingga momen spiritual kini kerap dibagikan secara terbuka.
Hal tersebut bisa menjadi sarana inspirasi dan berbagi energi positif. Namun disisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar apakah semua yang ditampilkan benar-benar lahir dari ketulusan, atau ada dorongan untuk mendapatkan pengakuan?
Dalam ajaran Islam, persoalan ini berkaitan erat dengan konsep riya'. Secara sederhana, riya' yakni melakukan kebaikan bukan semata karena Allah, tetapi juga karena ingin dilihat atau dinilai manusia.
Al-Qur'an memberikan peringatan agar setiap amal tetap berpijak pada keikhlasan, karena nilai ibadah sangat ditentukan oleh niat yang melatarbelakanginya. Berikut beberapa ayat yang menegaskan larangan riya dalam beramal:
1. Surah Al-Baqarah: 264
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًاۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْاۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ ٢٦٤
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.
Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.
Dalam QS. Al-Baqarah: 264, Allah menjelaskan bahwa kalau kita sedekah lalu diungkit-ungkit, dipamerkan, atau niatnya cuma supaya dipuji orang, maka pahala sedekah itu bisa hilang.
Ibarat debu di atas batu yang kena hujan deras, semua kebaikan itu tersapu habis dan tidak tersisa apa-apa. Intinya, kalau tidak ikhlas dan hanya cari pengakuan manusia, amal yang terlihat baik bisa jadi sia-sia di sisi Allah.
2. Surah Al-Ma'un: 4-6
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ٥ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ٦
Artinya: Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.
Surah Al-Mau'un: 4-6, menjelaskan bahwa Allah memperingatkan orang yang salat tapi hatinya lalai dan melakukannya karena ingin dilihat atau dipuji orang lain. Artinya, meskipun secara luar terlihat rajin ibadah, kalau niatnya buat pamer atau cari pengakuan, ibadah itu bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.
3. Surah An-Nisa': 38
وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ وَمَنْ يَّكُنِ الشَّيْطٰنُ لَهٗ قَرِيْنًا فَسَاۤءَ قَرِيْنًا ٣٨
Artinya: (Allah juga tidak menyukai) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang (lain) dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Akhir. Siapa yang menjadikan setan sebagai temannya, (ketahuilah bahwa) dia adalah seburuk-buruk teman.
Surah An-Nisa ayat 38 menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang mengeluarkan hartanya hanya untuk pamer atau supaya dipuji orang lain.
4. Surah An-Nisa': 142
نَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ ١٤٢
Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.
Surah An-Nisa' ayat 142 menjelaskan ciri orang munafik, mereka beribadah bukan karena iman, tapi sekadar ingin terlihat baik di depan manusia. Saat salat pun dilakukan dengan malas dan niatnya untuk pamer.
5. Surah Al-Anfal: 47
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بِمَايَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ ٤٧
Artinya: Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.
Surah Al-Anfal: 47 mengingatkan agar kita tidak bersikap sombong dan melakukan sesuatu hanya untuk pamer atau ingin dipuji orang lain. Setiap tindakan yang dilandasi kesombongan dan keinginan untuk pengakuan bukanlah sikap yang diridhai Allah, karena Allah mengetahui apa pun yang tersembunyi di balik perbuatan manusia.
(mae/mae)
Addsource on Google














































