Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
09 March 2026 09:36
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup masif pada penutupan perdagangan hari Jumat (6/3/2026). Indeks terpuruk 1,62% hingga menyentuh level 7.585,69.
Pada hari ini, IHSG kembali ambruk. Pada Senin (9/3/2026), IHSg ambruk 4,7% ke 7214,7.
Pelemahan ini merupakan akumulasi dari kepanikan pelaku pasar merespons rentetan sentimen negatif berskala global maupun domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis menyusul aksi penyerangan antara Israel-AS melawan Iran.
Eskalasi ini memuncak pada langkah blokade Selat Hormuz, memicu kekhawatiran atas disrupsi rantai pasok energi global sehingga harga minyak tembus US$ 100 per barel pada hari ini.
Di tengah memanasnya tensi militer tersebut, sentimen bursa domestik turut diperberat oleh langkah lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings. Pada Rabu (4/3/2026), Fitch merevisi outlook investasi Indonesia menjadi negatif.
Kombinasi antara ketidakpastian keamanan dunia dan koreksi outlook makroekonomi ini mendorong investor baik individu maupun institusi untuk sementara waktu menarik likuiditasnya, memicu aksi risk-off yang signifikan sembari menunggu keputusan lanjutan pada pengumuman MSCI terkait kinerja bursa dalam menopang transparansi data.
Rotasi Aliran Modal Asing dan Katalis Reformasi Pasar
Tekanan jual saat ini pada intinya mampu membuka narasi investasi yang berpotensi menguntungkan pasar domestik jika dilihat dari kacamata aliran modal global atau yang biasa dikenal sebagai foreign flow.
Lanskap investasi dunia tengah berada dalam fase transisi. Pasar saham Amerika Serikat dinilai telah mencapai valuasi yang terlampau tinggi atau overvalued, membuat manajer investasi global mulai merasionalisasi portofolio mereka.
Di sisi lain, kawasan Timur Tengah dan beberapa titik di Asia kini menjadi pilihan koleksi portfolio likuiditas global karena dianggap masih berada dalam kondisi yang lebih terdiskon. Situasi ini memicu pergeseran haluan aliran modal asing menuju negara berkembang yang lebih stabil.
Indonesia berpeluang besar menjadi destinasi utama rotasi dana segar ini. Daya tarik pasar domestik ditopang oleh langkah otoritas yang konsisten mengimplementasikan reformasi pasar modal.
Peningkatan transparansi emiten, perbaikan tata kelola, dan penguatan infrastruktur bursa memberikan landasan kepercayaan yang solid bagi pemodal asing yang tengah mencari valuasi wajar dengan prospek pertumbuhan positif.
Valuasi Atraktif Saham LQ45 di Tengah Tekanan
Kepanikan pasar akibat krisis eksternal sering kali menekan harga saham tanpa mengindahkan rasionalitas fundamental perusahaan. Penurunan ini menciptakan momentum bagi investor yang memiliki cash untuk mengeksekusi strategi pure fundamental play.
Sejumlah saham big caps di indeks LQ45 kini terseret ke area diskon dengan valuasi murah, kendati secara operasional perusahaan-perusahaan tersebut tidak mengalami pelemahan kinerja inti.
Data pasar memperlihatkan ada enam saham LQ45 yang ditransaksikan dengan Price to Earnings Ratio (PER) Trailing Twelve Months (TTM) konsisten di bawah 10 kali.
Lebih jauh, metrik deviasi standar rata-rata Price to Book Value (PBV) selama satu tahun terakhir pada keenam emiten ini menegaskan bahwa harga sahamnya saat ini berada di area undervalued secara historis.
Mengacu pada data tersebut, emiten perbankan (BBRI, BMRI, BBNI) menawarkan rasio PER di rentang 7,8x hingga 9,8x. Ketiga bank BUMN ini tetap membukukan Net Profit Margin (NPM) TTM yang sangat tinggi, melampaui rata-rata historis 5 tahunnya.
Angka ini merepresentasikan efisiensi operasional dan kualitas aset yang tangguh di tengah gejolak makroekonomi baik dari sisi internasional maupun domestik yang semakin tidak pasti.
EMTK mencatatkan valuasi PER paling rendah di level 6,05x dipadukan dengan tingkat profitabilitas tertinggi (NPM TTM 43,20%), menandakan diskon harga yang sangat masif.
Di sektor komoditas dan infrastruktur, ADRO dan TOWR menunjukkan daya tahan fundamental yang esensial, diperdagangkan pada PER di kisaran 8 kali dengan margin laba solid di atas 26%.
Di mana ADRO akan diuntungkan pada harga batu bara yang kian meningkat karena supply shock global serta harga aluminium yang kian meningkat. Serta TOWR yang berfokus pada pengembangan teknologi yang merangkul berbagai bagian di Indonesia.
Bagi investor fundamental, momentum koreksi ini memberikan margin of safety yang sangat optimal. Saat rasionalitas pasar kembali dan rotasi asing mulai terealisasi, saham-saham fundamental dengan valuasi terdiskon inilah yang diproyeksikan memimpin reli pemulihan tersebut.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google














































