Houthi Resmi Ikut Perang, Laut Merah Sampai Terusan Sues Terancam Ikut Diblokade

10 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Juru bicara militer kelompok Ansar Allah Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan operasi pertama dengan serangkaian rudal balistik di wilayah selatan Israel. Pengumuman ini menyusul kabar meluncurnya rudal perdana dari Yaman ke Israel pagi ini.

"Kami mengebom sasaran militer sensitif musuh Israel di wilayah selatan Palestina yang diduduki, bersamaan dengan operasi heroik Iran dan Hizbullah di Lebanon," kata Saree dalam pidato yang disiarkan televisi.

Saree menekankan bahwa operasi Houthi akan terus berlanjut sampai agresi berhenti di semua lini perlawanan di Iran, Lebanon, Irak dan Palestina.

Media Israel melaporkan pada Sabtu pagi bahwa rudal diluncurkan dari Yaman menuju wilayah pendudukan selatan, dan sirene berbunyi di Eilat, wilayah Wadi Araba, dan al-Naqab. Hal ini menandakan bahwa Yaman telah resmi memasuki perang.

Sebelum serangan Houthi pagi ini, Israel dan AS meningkatkan eskalasi serangan ke Iran dengan mengebom pabrik baja dan dua pembangkit nuklir sipil. Serangan brutal ini yang agaknya memicu Houthi akhirnya meluncurkan rudal.

Indikasinya, Yahya Saree kemarin mengatakan bahwa kelompok tersebut siap ikut bertempur dengan Iran jika sejumlah kondisi terpenuhi. Salah satu kondisi itu adalah jika serangan terus meningkat melawan Iran dan poros perlawanan.

Pada Jumat, Saree juga menjelaskan bahwa Houthi akan berpartisipasi dalam intervensi militer jika ada negara baru yang bergabung dengan AS dan Israel dalam perang melawan Iran. 

Sejauh ini serangan ke Iran dilakukan oleh AS dan Israel meski difasilitasi pangkalan militer di negara-negara Teluk. Meski begitu seturut serangan balasan Iran ke pangkalan itu, sejumlah negara Teluk mulai menimbang ikut menyerang Iran.

Kondisi kedua bagi Houthi untuk ikut perang bersama Iran AS adalah jika Laut Merah digunakan untuk menargetkan Iran atau negara Muslim mana pun.

Pada Oktober 2023, Houthi memblokade Laut Merah ketika Israel menggencarkan genosidanya di Gaza. Kapal-kapal menuju Israel dihantam rudal Houthi, membuat pelabuhan-pelabuhan di Israel bangkrut. Blokade itu juga membuat kapal-kapal memutar jauh dan mahal melalui Afrika untuk mencapai Eropa dari Asia.

AS kemudian memimpin koalisi patroli di Laut Merah dan berulang kali menyerang Yaman. Setelah kerugian besar dalam aksi tersebut, termasuk jatuhnya tiga jet tempur F-16, AS menyetujui gencatan senjata dengan Houthi pada 2025.

Dalam pernyataannya, Saree juga menyerukan AS dan Israel untuk menanggapi upaya diplomatik internasional untuk menghentikan perang dengan Iran dan “negara-negara Poros Perlawanan”, termasuk Lebanon. 

“Agresi ini tidak adil, menindas, dan tidak beralasan, merugikan stabilitas dan keamanan global dan regional, serta merusak perekonomian global,” ujarnya. 

Poin kedua yang dia sebutkan adalah penghentian agresi di Palestina, Lebanon, Irak, Iran dan pencabutan “blokade tidak adil terhadap Yaman.” Ketiga, penerapan “gencatan senjata” di Gaza dan pemenuhan kewajiban terkait pengiriman kemanusiaan dan hak-hak sah warga Palestina. 

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research