REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Iwan Koswara mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 sebagai momentum memperkuat perlindungan anak, khususnya melalui pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah maupun ruang digital.
Menurut Iwan, bullying masih menjadi salah satu persoalan yang mengancam tumbuh kembang anak. Dampaknya tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga prestasi belajar korban.
"Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Bullying tidak boleh dianggap sebagai kenakalan biasa, karena dampaknya dapat membekas hingga anak dewasa," kata Iwan, Sabtu (25/7/2026).
Ia menilai pencegahan perundungan harus menjadi gerakan bersama. Sekolah, kata dia, tidak cukup hanya memberikan sanksi kepada pelaku, tetapi juga harus membangun budaya saling menghargai melalui penguatan pendidikan karakter, literasi digital, serta pembiasaan sikap toleransi dan empati di kalangan peserta didik.
Selain itu, setiap sekolah perlu memiliki mekanisme pengaduan yang mudah diakses serta menjamin perlindungan terhadap korban. Guru dan tenaga kependidikan juga harus dibekali kemampuan untuk mengenali gejala perundungan sejak dini agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Iwan menambahkan, keluarga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam mencegah bullying. Orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak sehingga mereka merasa aman untuk bercerita apabila mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan.
"Jangan sampai anak merasa sendirian menghadapi persoalannya. Kehadiran orang tua sebagai tempat bercerita dan mendapatkan dukungan emosional sangat menentukan proses pemulihan maupun pencegahan," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat praktik bullying tidak lagi terbatas di lingkungan sekolah, tetapi juga merambah media sosial dan berbagai platform digital. Karena itu, pendampingan terhadap aktivitas digital anak harus menjadi perhatian bersama agar ruang digital tetap menjadi tempat yang sehat dan aman.
Sebagai anggota Komisi V DPRD Jawa Barat yang membidangi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, Iwan menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kebijakan yang memperkuat perlindungan anak serta mewujudkan sekolah ramah anak di Jawa Barat.
Menurutnya, Hari Anak Nasional tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi harus menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh tanpa rasa takut, bebas dari kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan.
"Melindungi anak adalah investasi terbaik bagi masa depan bangsa. Jika kita ingin melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing, maka pastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan terbebas dari bullying," kata Iwan.

9 hours ago
2

















































