Harga CPO Merajalela, Pengusaha Sawit Pesta Terus

12 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih menguat pada perdagangan Jumat (13/03/2026) di Bursa Malaysia Derivatives Exchange.

Pada hari ini, Jumat (13/3/2026) pukul 09.13 WIB, harga acuan CPO menguat 0,90% menjadi MYR 4.582 per metrik ton. Dalam sepekan ini, harga CPO sudah melesat 7,2%.

Penguatan harga CPO masih ditopang oleh kenaikan harga minyak nabati pesaing (competing vegetable oils) serta lonjakan harga minyak mentah dunia.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 9,72% dan ditutup di US$95,73 per barel. Sementara itu, Brent melonjak 9,22% dan ditutup di US$100,46 per barel, menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022.

Harga Minyak Nabati, B50, dan Konflik Iran Jadi Penopang

Mengutip Reuters, seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur menyebut pergerakan kontrak CPO saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar energi.

"Pergerakan kontrak berjangka saat ini sangat dipengaruhi oleh situasi harga minyak mentah. Jika terjadi kenaikan signifikan di pasar Dalian, Chicago, atau minyak mentah, maka harga juga akan bereaksi," kata trader tersebut.

Ia menambahkan bahwa rencana Indonesia mempercepat implementasi biodiesel B50 juga memberikan sentimen positif bagi pasar.

Pada perdagangan Kamis (12/03/2026), kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian (DBYcv1) naik 2,21%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama (DCPcv1) melonjak 3,55%. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (BOcv1) turut menguat 1,18%.

Kenaikan harga CPO juga dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Iran dilaporkan memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Harga minyak mentah yang lebih tinggi membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Ekspor Mulai Melambat, Harga Berpotensi Koreksi

Di sisi lain, Indonesia tengah mempercepat uji jalan (road test) biodiesel B50, yang merupakan campuran 50% minyak sawit dan 50% bahan bakar konvensional. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi potensi gangguan pasokan minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah.

Namun demikian, pesanan ekspor minyak sawit untuk pengiriman baru mulai melambat.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan adanya kenaikan biaya logistik serta asuransi pengiriman sejak terjadinya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan harga kontrak CPO FCPOc3 berpotensi terkoreksi ke kisaran 4.494-4.514 ringgit per metrik ton, sebelum kembali menguji level resistensi di 4.616 ringgit.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research