Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tiba-tiba terbang kembali.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di US$ 139,35 per ton atau terbang 3,41% pada perdagangan Rabu (18/3/2026). Penguatan ini memutus derita batu bara yang melemah 2,9% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.
Konflik yang semakin memanas di Timur Tengah secara tiba-tiba telah mengganggu sekitar seperlima pasokan LNG global, setelah Qatar mengurangi produksi dan ekspornya. Hal ini mendorong pembeli di Asia untuk lebih bergantung pada batu bara dan bahan bakar cadangan lainnya.
Perubahan ini menegaskan bahwa negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan semakin memprioritaskan keamanan energi dan diversifikasi sumber pasokan.
Di sisi lain, harga energi global seperti minyak brent, minyak mentah AS, dan gas alam turut bereaksi terhadap ketatnya keseimbangan pasokan gas regional serta meningkatnya premi risiko akibat ketegangan geopolitik.
Di Amerika Serikat, pembangkit listrik tenaga batu bara kini berada dalam kondisi yang sangat terbatas, bahkan nyaris tidak kompetitif. Banyak pembangkit batu bara telah ditutup seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan yang lebih murah dan gas alam.
Pemerintahan Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggunakan berbagai cara untuk melawan tren ekonomi ini, salah satunya dengan memerintahkan pembangkit yang dijadwalkan tutup agar tetap beroperasi.
Departemen Energi AS memanfaatkan Federal Power Act dan perintah eksekutif Trump yang menyatakan adanya darurat energi, untuk mencegah penutupan pembangkit batu bara di seluruh negeri.
Salah satunya pembangkit di Centralia, Washington, yang sebenarnya dijadwalkan tutup tahun lalu untuk dikonversi menjadi pembangkit gas alam.
Perintah darurat dari Departemen Energi sebelumnya membuat pembangkit ini tetap beroperasi selama musim dingin, namun perintah tersebut seharusnya berakhir kemarin. Dengan adanya perintah baru, pembangkit tersebut akan tetap beroperasi hingga pertengahan Juni.
Dari China diaporkan, harga batu bara di China mulai menunjukkan arah yang berbeda antara segmen termal dan kokas, mencerminkan dinamika permintaan domestik yang belum sepenuhnya solid.
Untuk batu bara termal, harga di tingkat mine-mouth (mulut tambang) mulai merangkak naik seiring dengan kembalinya minat beli dari utilitas domestik. Kenaikan ini didorong oleh aktivitas restocking pembangkit listrik yang mulai mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi.
Selain itu, harga yang sebelumnya sempat tertekan membuat batu bara domestik kembali menarik secara ekonomis, sehingga memicu masuknya kembali pembeli ke pasar.
Namun, penguatan harga ini masih bersifat bertahap dan terbatas. Stok batu bara di pelabuhan yang masih tinggi serta permintaan listrik yang belum pulih sepenuhnya menjadi faktor penahan kenaikan lebih lanjut.
Di sisi lain, pasar juga masih dibayangi oleh pasokan domestik yang melimpah, peningkatan porsi energi alternatif, serta kebijakan pemerintah China yang aktif menjaga stabilitas harga energi.
Berbeda dengan batu bara termal, harga batu bara kokas justru melanjutkan tren kenaikan, ditopang oleh permintaan yang tetap kuat dari industri baja.
Produksi baja yang relatif stabil menjaga kebutuhan bahan baku tetap tinggi, sementara pasokan untuk kualitas tertentu masih terbatas.
Namun, di balik kenaikan tersebut, muncul tanda-tanda pelemahan di segmen high-end.
Pembeli mulai lebih selektif karena harga premium yang sudah tinggi, tekanan margin di industri baja, dan kecenderungan beralih ke kualitas lebih rendah untuk efisiensi biaya.
Bagi pasar global, terutama eksportir seperti Indonesia, kondisi ini memberi sinyal bahwa dukungan harga masih ada, tetapi potensi kenaikan besar mulai terbatas di tengah dinamika permintaan yang lebih selektif.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google














































