Harga Batu Bara Ambruk 8%, Terjebak Ambruknya Minyak vs Sengatan China

9 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ambruk setelah harga minyak jatuh.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 131,1 per troy ons atau jatuh 8,8% pada perdagangan Selasa (10/3/2026).

Pelemahan ini memutus reli batu bara yang menguat 8,2% selama tiga hari beruntun sebelumnya.

Harga batu bara jeblok seiring ambruknya harga minyak dunia. Harga minyak jatuh 11% pada Selasa setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan perang akan berakhir.

Batu bara adalah substitusi minyak sehingga harganya saling memengaruhi.


Harga batu bara tetap ambruk meskipun ada kabar baik dari China.

Impor batu bara China pada Januari-Februari 2026 mencapai rekor tertinggi untuk periode tersebut sepanjang sejarah. Kondisi ini bertentangan dengan perkiraan sebelumnya bahwa impor akan menurun karena pasokan domestik melimpah.

Data impor dua bulan biasanya digabung karena efek libur Tahun Baru Imlek, yang dapat mengganggu aktivitas perdagangan pada salah satu bulan.

Beberapa faktor yang membuat impor tetap kuat meski produksi domestik besar adalah arbitrase harga masih terbuka untuk beberapa jenis batu bara impor, sehingga pembeli China tetap tertarik.

Faktor lain permintaan dari pembangkit listrik dan industri masih stabil pada awal tahun dan kontrak jangka panjang dan pengiriman yang sudah dijadwalkan sebelumnya terus tiba di pelabuhan China pada awal tahun.

Lonjakan impor ini terjadi di tengah produksi batu bara domestik yang tinggi dan stok yang cukup besar.

Banyak analis sebelumnya memperkirakan impor akan melemah, karena harga domestik China mulai turun dan utilitas cenderung beralih ke pasokan lokal.

Meski awal tahun mencetak rekor, beberapa analis memperkirakan pertumbuhan impor dapat melambat dalam beberapa bulan berikutnya, karena stok di pelabuhan tinggi, harga domestik lebih kompetitif, dan margin impor mulai menyempit.

China adalah importir batu bara terbesar dunia, sehingga perubahan kecil pada permintaan China dapat langsung memengaruhi pasar batu bara global dan negara pemasok seperti Indonesia, Australia, Rusia, dan Mongolia.

Kendati impor naik, pasar batu bara termal domestik China diperkirakan akan mengalami pergeseran permintaan secara bertahap dari batu bara impor ke batu bara domestik, terutama dari sejumlah pembangkit listrik di wilayah pesisir.

Pergeseran ini terjadi karena selisih harga antara batu bara impor dan domestik mencapai level tertinggi dalam sekitar empat tahun, sehingga batu bara impor menjadi kurang kompetitif.

Harga batu bara termal di wilayah tambang utama Shaanxi (Yulin) pada 10 Maret turun tipis CNY 2 per ton menjadi CNY 598 ton menandakan tekanan ringan pada pasar domestik batu bara China.

Perusahaan utilitas listrik di pesisir China mulai beralih ke batu bara domestik karena selisih harga antara batu bara impor dan domestik mencapai level tertinggi dalam sekitar empat tahun.

Kenaikan selisih harga tersebut membuat batu bara impor kehilangan daya saing, sehingga pembangkit listrik lebih memilih membeli pasokan dari tambang dalam negeri.

Permintaan impor batu bara seaborne ke China berpotensi melemah, terutama dari utilitas pesisir yang biasanya menjadi pembeli utama.

Hal ini dapat menekan pasar batu bara ekspor Asia, termasuk dari negara pemasok seperti Indonesia dan Australia.

Pergeseran ini juga menunjukkan ketergantungan China pada produksi domestik semakin kuat ketika harga lokal lebih kompetitif.

Karena harga batu bara impor menjadi jauh lebih mahal dibandingkan batu bara domestik, utilitas listrik China mulai mengurangi pembelian impor dan beralih ke pasokan lokal. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan batu bara di pasar internasional.

Ketika spread harga impor vs domestik melebar, pembangkit listrik cenderung mengurangi pembelian batu bara seaborne.

Hal ini dapat menekan permintaan impor China, terutama dari pemasok utama seperti Indonesia dan Australia.

Jika tren ini berlanjut, pasar batu bara internasional bisa menghadapi tekanan harga karena China adalah pembeli terbesar dunia.


CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research