Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara jatuh tiga hari beruntun di tengah ambruknya harga energi.
Harga batu bara pada perdagangan Rabu (25/3/2026) ditutup di US$ 137,55 per ton atau turun 0,53%. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif harga batu bara yang jatuh 6,1% dalam tiga hari terakhir.
Harga batu bara melandai sejalan dengan melemahnya harga energi dunia, mulai dari minyak hingga gas alam.
Harga minyak mentah jatuh 2,2% pada perdagangan Rabu kemarin sementara harga gas aam jatuh 1,98%.
Harga energi melemah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ada negoisasi antara AS dan Iran.
Batu bara dan minyak serta gas alam adalah komoditas yang saling melengkapi sehingga harganya saling memengaruhi.
Harga batu bara tetap jatuh meskipun ada kabar baik dari India.
India menunda selama satu tahun rencananya untuk menurunkan output pembangkit listrik berbahan bakar batu bara ketika produksi tenaga surya sedang tinggi.
Regulator masih mencari cara untuk mengompensasi biaya tambahan dari proses retrofit (modifikasi teknis), menurut dokumen yang ditinjau oleh Reuters.
Para analis mengatakan kurangnya fleksibilitas pembangkit listrik batu bara saat India memperluas kapasitas energi terbarukan berisiko menyia-nyiakan investasi hijau, meningkatkan biaya kompensasi, serta mendorong kenaikan emisi akibat penggunaan batu bara yang seharusnya bisa dihindari.
Langkah ini terjadi ketika India yang merupakan pengguna batu bara terbesar kedua di dunia itu justru membatasi output tenaga surya karena kurangnya jaringan transmisi khusus. Sementara itu, kapasitas pembangkit batu bara menghadapi kendala operasional.
Estimasi lembaga think-tank energi Ember memperkirakan produsen listrik tenaga surya yang diminta mengurangi output karena pembangkit batu bara tidak dapat menurunkan produksinya bisa menerima kompensasi hingga US$76 juta untuk delapan bulan hingga Desember.
Biaya yang pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen.
Pejabat pemerintah menyebut penundaan selama satu tahun ini disebabkan belum adanya aturan kompensasi bagi pembangkit batu bara atas biaya tambahan pemeliharaan dan retrofit yang diperlukan untuk menurunkan tingkat operasi minimum dari 55% menjadi 40%, sebagaimana tercantum dalam risalah rapat 16 Januari.
Retrofit pembangkit batu bara diperkirakan hanya akan menaikkan tarif listrik sebesar INR 0,28 hingga 0,60 per kilowatt-jam, dibandingkan dengan INR 5,76 hingga 6,04 untuk penyimpanan baterai. Hal ini membuat fleksibilitas batu bara setidaknya 10 kali lebih murah.
Sementara itu, dari China dilaporkan produsen batu bara kokas (coking coal) di China tetap mencatat penjualan yang kuat, meskipun mereka telah menaikkan harga penawaran. Permintaan yang solid terutama dari sektor baja membuat pasar tetap aktif dan harga cenderung naik.
Pabrik baja China tetap aktif membeli untuk menjaga produksi. Permintaan coking coal juga tinggi karena digunakan dalam proses pembuatan baja (blast furnace) sementara stok di pabrik relatif rendah yang memicu pembelian agresif.
Harga batu bara termal di tingkat tambang (mine-mouth) di China juga mengalami kenaikan cukup cepat, didorong oleh permintaan yang membaik dan pasokan yang relatif ketat. Namun, kenaikan ini mulai menghadapi "resistensi" dari pembeli dan kebijakan pemerintah, sehingga potensi kenaikan lebih lanjut bisa terbatas.
Kenaikan dipicu oleh permintaan listrik yang membaik dan aktivitas industri yang meningkat.
Utilitas (PLTU) juga mulai meningkatkan pembelian untuk mengamankan pasokan. Ada aktor yang mendorong konsumsi listrik dan mempercepat penyerapan batu bara di pasar domestik.
Sat ini persediaan di pembangkit listrik dan pelabuhan tidak terlalu tinggi sehingga pembelian tambahan dilakukan untuk menghindari kekurangan pasokan.
Namun, perusahaan listrik mulai menolak kenaikan harga lebih lanjut. Pasalnya, pemerintah China dikenal sensitif terhadap lonjakan harga batu bara karena dampaknya ke inflasi dan tarif listrik.
Dari Jerman, Kementerian ekonomi dan energi Jerman menilai bahwa mengembalikan pembangkit listrik batu bara yang saat ini berada dalam status cadangan ke pasar bisa menjadi "bermasalah", meskipun perang Iran telah berdampak pada harga energi.
Harga gas melonjak setelah perang Iran meletus pada akhir Februari 2026 yang membuat Eropa cemas.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google














































